Minggu, 01 Januari 2012


PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENUNJANG
PENGEMBANGAN PENDIDIK MENJADI FASILITATOR PEMBELAJARAN
DAN PESERTA DIDIK MENJADI SUMBER DAYA MANUSIA MASA DEPAN
YANG KAYA INFORMASI[i]

Oleh
A.C. Sungkana Hadi[ii]


Pada umumnya sejarah perkembangan peradaban manusia itu dapat diringkaskan kedalam tataran masa pra revolusi pertanian atau pra revolusi hijau, masa revolusi hijau, masa revolusi industri, dan dewasa ini tataran masa revolusi informasi.  Tiga tataran terakhir oleh Alvin Toffler (1980)[1] disebut sebagai gelombang pertama, gelombang kedua, dan gelombang ketiga. Sementara itu, John Naisbit (1982)[2] melukiskan bahwa dalam gelombang ketiga terjadi perubahan signifikan dalam angkatan kerja. Jika pada gelombang kedua (revolusi industri) 62% angkatan kerja bekerja pada sektor industri/pemroduksian barang (blue collar), 21% pada sektor pertanian, dan hanya 17% pada sektor jasa dan layanan (white collar), maka pada gelombang ketiga (revolusi informasi), 60% angkatan kerja bekerja pada sektor jasa dan layanan (white collar) dan prosentase ini akan makin meninggi, sedangkan kurang dari 20% angkatan kerja pada sektor industri/pemroduksian barang (blue collar), dan prosentase ini akan semakin menurun.[3]

Apa makna perubahan itu? Apa kaitannya dengan lembaga pendidikan yang pada akhirnya akan menghasilkan angkatan kerja masa depan? Apa hubungannya dengan informasi? Dan apa kaitannya dengan penggunaan perpustakaan sekolah? Pertanyaan-pertanyaan itu hendaknya dapat menggugah dan memotivasi Bapak-Ibu Guru pada Sekolah ini untuk lebih menyadari pentingnya perpustakaan sekolah dan mendayagunakannya,  setelah selesai mengikuti kegiatan ini.

Ilustrasi Sejarah Peradaban

Sejarah peradaban umat manusia ditandai dengan berbagai penemuan yang menghasilkan perubahan dan kemajuan. Pada umumnya para ahli berpendapat, bahwa ’roda’ yang ditemukan pada sekitar tahun 4000 sebelum Masehi, adalah perkakas mekanis paling penting yang pernah ditemukan manusia, dan dianggap sebagai salah satu tonggak perubahan yang sangat menentukan. Hal itu karena dengan sistem yang berbasis roda maka segala sesuatu dapat digerakkan dengan lebih mudah. Penemuan ini memungkinkan terjadinya revolusi dalam dunia keperkakasan dan peralatan.[4] Penemuan roda biasa ini kemudian ditunjang dengan pengembangan roda bergigi yang dapat menggerakkan sejumlah roda lain yang dikaitkan satu sama lain, yakni dengan memindahkan putaran dari satu poros ke poros lainnya.[5]  Aplikasi dari sistem roda bergigi ini antara lain dalam arloji (yang berbasis per), yang pergerakan mekanisnya dihasilkan oleh sinergi sejumlah roba bergigi dalam berbagai bentuk dan ukuran. Penerapan sistem roda bergigi dalam perkakas atau peralatan lain dapat menimbulkan arus listrik, yang kekuatannya dapat menggerakkan berbagai bentuk peralatan secara otomatis, bukan hanya mekanis.

Dalam dunia ilmu pengetahuan dan informasi, penemuan mesin cetak pada abad 15 juga merupakan salah satu tonggak perubahan yang sangat penting. Dengan mesin cetak maka segala bentuk informasi dapat dengan mudah digandakan dan kemudian disebarluaskan. Penemuan berikut yang dianggap sangat menentukan perkembangan peradaban hingga saat ini adalah penemuan prototipe mesin hitung otomatis oleh Blaise Pascal (1623-1662) pada tahun 1642, yang dapat melaksanakan kegiatan aritmetika sendiri (otomatis). Penemuan ini mendasari seluruh upaya pengembangan komputasi yang antara lain menghasilkan perangkat komputer pada tahun 1946. Hal ini karena ditunjang oleh penemuan lain sebelumnya yang sangat penting, yakni penemuan alat untuk menghasilkan muatan listrik dan lampu pijar listrik. Alat untuk menghasilkan muatan listrik dan batere ditemukan oleh Alessandro Volta (1745-1827) pada tahun 1774; sedangkan sistem distribusi listrik, stasiun tenaga listrik, dan lampu pijar listrik ditemukan oleh Thomas Alva Edison (1847-1931) pada tahun 1867.[6] Penemuan dalam bidang kelistrikan ini mendorong terjadinya revolusi yang lebih dahsyat, yakni revolusi industri.[7] Berkat penemuan listrik dan lampu pijar listrik tersebut, dewasa ini – sekitar 140 tahun kemudian, umat manusia dapat menikmati berbagai peralatan yang bekerja secara otomatis. Pengembangan atas penemuan-penemuan spektakuler tersebut menghasilkan sistem komputer digital yang dewasa ini berkembang dengan sangat cepat.

Teknologi Informasi dan Masyarakat Informasi

Perkembangan teknologi komputer tersebut mendasari perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikasi yang semakin pesat dan semakin canggih, terutama sejak sekitar pertengahan dasawarsa 1980-an. Perkembangan teknologi informasi itu pulalah yang memungkinkan terjadinya revolusi informasi.   Peradaban umat manusia yang berkembang berkat terjadinya revolusi informasi itu melahirkan apa yang disebut masyarakat informasi, yakni masyarakat yang terstruktur berdasarkan prinsip informasi sebagai komoditas dan sebagai sumberdaya yang strategis. Dengan kata lain, masyarakat informasi adalah masyarakat yang pola hidup dan peri kehidupannya didasarkan pada pengolahan informasi. Hal ini dipermudah berkat berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology – ICT), yang disatu pihak memfasilitasi terjadinya percepatan dan pelipatgandaan pemroduksian informasi, namun dilain pihak juga memudahkan pengelolaan dan pemanfaatan informasi tersebut. Pada sekitar 1988, di pusat-pusat kemajuan teknologi di Tanah Air kita telah dapat diketemukan perangkat-perangkat Personal Computer (PC), setelah PC pertama diperkenalkan oleh IBM pada tahun 1981.

Perubahan peradaban, khususnya dari tataran revolusi industri ke tataran revolusi informasi, mungkin memang paling nampak pada masyarakat industri di negara-negara maju. Kebutuhan mereka akan informasi yang aktual, akurat, dan komprehensif memang sangat dirasakan sebagai sesuatu yang mendesak karena adanya kompetisi dalam rangka pengembangan industri. Kebutuhan ini terjadi bukan saja di kalangan industrialis untuk lebih meningkatkan kualitas dan keanekaragaman produk mereka, tetapi juga di kalangan masyarakat pengguna produk untuk dapat memilih produk yang paling relevan dengan kebutuhan mereka untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup. ICT sangat mendorong terjadinya peningkatan kualitas dan keanekaragaman hasil produksi. Angkatan kerja dalam sektor industri, misalnya, tidak lagi didominasi oleh tenaga yang memerlukan kekuatan otot, melainkan semakin banyak didominasi oleh tenaga yang memerlukan keterampilan teknis dalam mengoperasikan mesin-mesin yang terkomputerisasi. Angkatan kerja yang tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang berorientasi pada sistem komputer ini lama kelamaan akan tersisih.

Apa relevansi dari hal-hal tersebut dengan dunia pendidikan? Apa perlunya insan pendidikan mempermasalahkan hal-hal tersebut?

Informasi dan Kompetensi

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa perkembangan peradaban dalam masyarakat informasi menuntut setiap warga masyarakat, khususnya angkatan kerja (termasuk para guru dan dosen) dan calon angkatan kerja (generasi muda, peserta didik), untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Kondisi demikian ini hanya dimungkinkan apabila mereka mampu menjadikan informasi sebagai sumberdaya yang strategis, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam mengevaluasi berbagai hal yang terkait dengan peri kehidupan mereka. Dengan kata lain, informasi harus dikuasai, dimiliki, dan dimanfaatkan sebagai dasar dari setiap pelaksanaan program atau kegiatan. Pemanfaatan informasi sebagai sumberdaya yang strategis itu antara lain demi memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi baik melalui proses alih ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara formal dalam lembaga pendidikan persekolahan/perguruan tinggi, maupun pemahaman IPTEK melalui belajar mandiri. Dalam kedua proses ini, diperlukan bahan, media, atau sumber belajar yang komprehensif, yang semuanya itu dapat diketemukan di suatu perpustakaan.

Dewasa ini sedang giat-giatnya dikembangkan program KBK, kurikulum berbasis kompetensi. Jika kompetensi yang dituju, maka tidak ada jalan lain kecuali menguasai sebanyak mungkin informasi yang terkait. Hal itu karena dalam pengertian kompetensi itu bukan hanya penguasaan pengetahuan tentang bidang keahliannya, melainkan juga keterampilan memanfaatkan pengetahuan itu, serta perilaku yang sesuai dengan bidangnya. Kompetensi itu biasa didefinisikan sebagai pengetahuan dan keterampilan yang dituntut untuk melaksanakan dan/atau untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan, yang merupakan dasar bagi penciptaan nilai dalam suatu organisasi.[8] Menurut definisi ini, faktor-faktor kompetensi yang sangat penting bagi perseorangan maupun organisasi untuk mencapai keberhasilan meliputi: pengetahuan teknis atau pengetahuan bidang keahliannya, pengkoordinasian pekerjaan, penyelesaian dan pencegahan masalah, komunikai dan layanan (untuk mencapai kepuasan pelangan), dan akuntabilitas (kemampuan mengambil keputusan yang tepat dan pertanggungjawaban atasnya).

Beberapa definisi tentang kompetensi yang dirumuskan sejumlah ahli menambhakan unsur motivasi, sikap dan nilai kepribadian, serta kepercayaan diri; selain itu, juga dikatakan bahwa kompetensi itu bisa diukur, dan dapat dikembangkan, misalnya melalui pendidikan dan pelatihan (Mirabile, 1997[9]; Boyatziz, 1982[10];  Parry (1998) dan Spencer and Spencer (1993).[11]  Dari beberapa definisi tersebut dapat dirumuskan bahwa orang yang berkompeten adalah orang yang penuh percaya diri karena menguasai pengetahuan dalam bidangnya, memiliki kemampuan dan keterampilan serta motivasi tinggi dalam mengerjakan hal-hal yang terkait dengan bidang itu sesuai dengan tata nilai atau ketentuan yang dipersyaratkan.

Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat direnungkan dan dirumuskan, seperti apakah profil seorang pendidik atau guru yang berkompeten? Dari mana kompetensi itu diperoleh dan bagaimana dikembangkan?

Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar

Sesungguhnya, perpustakaan diciptakan oleh dan lahir dari proses perkembangan dan kemajuan peradaban umat manusia.[12] Bahkan diakui kemudian, bahwa berkat lembaga perpustakaan maka kendati bentuk fisik hasil kemajuan peradaban manusia hancur dan punah, namun deskripsi dan informasi tentangnya masih tetap terpelihara dalam berbagai dokumen dan/atau kepustakaan. Kejayaan kekaisaran Romawi, kejeniusan pemikir-pemikir Yunani, ataupun keindahan bangunan-bangunan monumental dunia masih tetap dapat dilihat, dipelajari, dan dinikmati oleh umat manusia generasi sekarang ini. Itu semua berkat jasa para pengelola perpustakaan atau pustakawan kuno, yang terkadang harus menghadapi resiko kehilangan nyawa karena melindungi karya dokumenter umat manusia dari amukan api pemusnah sebagai akibat dari kekejaman perang.

Oleh kaum penjajah dan/atau penindas pergerakan rakyat, perpustakaan dianggap memiliki kekuatan yang sangat besar karena dapat memberikan inspirasi dan pembelajaran yang mendorong terjadinya peningkatan kesadaran ekonomis, moral, politis, religius, dan sosial. Kesadaran-kesadaran ini mendorong terjadinya perlawanan terhadap kesewenang-wenangan, penjajahan, dan penindasan. Oleh karena itu, dalam berbagai peperangan tidak jarang dilakukan pembakaran atas berbagai perpustakaan untuk memusnahkan dokumen atau bahan pustaka sumber inspirasi dan pembelajaran tersebut.

Pengertian Perpustakaan

Pada umumnya jika istilah perpustakaan disebut, asosiasi kebanyakan orang – termasuk sejumlah pengelola – tertuju kepada sebuah gedung atau ruangan yang penuh dengan buku yang diatur rapi dalam rak-rak buku. Apakah buku-buku itu pernah digunakan atau tidak, atau apakah di dalam gedung/ruangan perpustakaan itu ada pengunjung dan penggunanya atau tidak, itu tidak termasuk dalam pengertian perpustakaan. Bahkan di beberapa instansi, yang dinamai perpustakaan itu adalah suatu ruang dengan sejumlah buku yang disusun dalam beberapa lemari berkaca yang terkunci; ruangannya pun sering terkunci. “Perpustakaan” yang demikian itu tentu tidak akan mampu berperan dalam proses alih IPTEK dan proses belajar mandiri.

 Perpustakaan yang mampu berperan dalam proses alih IPTEK dan proses belajar mandiri adalah perpustakaan yang dikelola dengan baik sebagai sebuah sistem, yang selalu dikembangkan koleksinya, yang dijajakan (dipromosikan) kepada masyarakat penggunanya, dan yang memberikan layanan kepada masyarakat penggunanya secara terbuka. Komponen yang harus ada dalam sebuah perpustakaan meliputi:
(1)               ruangan, entah ruangan yang merupakan bagian dari suatu gedung yang dipakai bersama, atau gedung tersendiri secara utuh (hanya untuk perpustakaan);
(2)               koleksi bahan pustaka, termasuk di dalamnya prasarana untuk menampung/mengatur bahan pustaka itu (rak buku, rak majalah, rak peta, almari audio-visual, dan sebagainya);
(3)               sistem pengelolaan dan pelayanan, meliputi sistem pengolahan bahan pustaka, sistem pengaturan atau penjajaran bahan pustaka di rak, sistem pelayanan (termasuk peraturan peminjamannya); dan
(4)               tenaga pengelola, khususnya pustakawan, yakni orang yang memiliki latar belakang pendidikan bidang perpustakaan; serta
(5)               masyarakat pengguna, yang bukan saja ditunggu kedatangannya di perpustakaan melainkan jika perlu dicari dan diarahkan secara aktif mengunjungi dan menggunakan perpustakaan.

Perpustakaan yang demikian dipastikan dapat berperan dalam upaya pengembangan masyarakat yang sadar informasi, yang kemudian menjadi masyarakat yang kaya informasi (well informed) karena selalu belajar sehingga terbentuk masyarakat yang selalu belajar (learning society), atau masyarakat yang belajar sepanjang hayat (life-long learning). Ini semua pertama-tama menjadi tanggung jawab pengelola yang seharusnya didukung sepenuhnya oleh pemerintah dan masyarakat. Hal itu karena pada dasarnya perpustakaan adalah lembaga layanan publik untuk mendukung upaya pencapaian tujuan nasional, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Menyelenggarakan perpustakaan dengan layanan yang terbuka bagi masyarakat umum adalah tugas pemerintah, sama halnya dengan tugas menyelenggarakan layanan pendidikan, layanan kesehatan, dan layanan penyediaan fasilitas umum lainnya. Secara khusus, layanan pendidikan mencakup juga layanan perpustakaan sekolah, yang merupakan bagian integral dari suatu proses pembelajaran.

Proses Pembelajaran - CBSA

            Perkembangan dalam dunia pendidikan – khususnya menyangkut metode dan pengelolaan proses pembelajaran – telah berlangsung begitu lama. Pada waktu Plato mengembangkan sistem pembelajaran berbentuk akademi, dia merupakan pusat dari seluruh proses pembelajaran (teacher oriented) Dia menguasai seluruh ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada murid-muridnya, dan kemudian menceramahkannya secara holistik-komprehensif. Pola teacher-oriented ini bertahan cukup lama. Setelah berkembang cukup banyak buku teks dan bahan bacaan lain, maka dikembangkan pola pembelajaran yang book-oriented. Dalam pola pembelajaran demikian, peranan guru adalah sebagai fasilitator pembelajaran, sebagai perencana proses pembelajaran, dan sebagai pengarah bagi murid dalam menggunakan sumber-sumber pembelajaran. Oleh karena itu, diharapkan bahwa para murid atau siswa sendiri yang pro-aktif dalam proses pembelajaran itu, sehingga kita kenal ada istilah CBSA – Cara Belajar Siswa Aktif.

            Kemampuan siswa dalam belajar sesungguhnya terkait dengan karakteristik dan potensi individual masing-masing yang berbeda-beda. Pada tahun 1960-an, Edgar Dale menggambarkan karakteristik dan potensi atau tingkat kemampuan belajar peserta didik dengan diagram kerucut pengalaman (the cone of experiences).[13] Menurut teori ini, proses belajar anak berlangsung dari tahapan pengalaman konkrit yang diciptakan dengan tujuan pembelajaran tertentu hingga tahapan pengalaman abstrak berupa simbol-simbol verbal. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang komprehensif, yang menunjang dicapainya pemahaman yang mendalam atas materi pembelajaran oleh para siswa, harus dilakukan dengan menggunakan berbagai media pembelajaran yang disebut audio-visual – bahan pandang-dengar – atau multi media. Dengan tersedianya media pembelajaran yang bervariasi ini, maka siswa dapat memilih sendiri media mana yang lebih membantu dia dalam mempercepat tercapainya pemahaman, dan memilih waktu kapan serta tempat di mana proses pembelajaran itu akan dilakukan. Konsep atau pola pembelajaran ini biasa disebut sebagai flexible learning, pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan peserta didik.

            Dari perkembangan pola pembelajaran itu, lalu di mana letak fungsi dan peranan perpustakaan sekolah? Apa sebenarnya perpustakaan itu?

Perpustakaan sebagai Supermarket Informasi

Dalam arti yang sebenarnya, perpustakaan merupakan pusat sumber informasi, yakni tempat pengelolaan segala bentuk sumber informasi, baik yang tercetak (printed material), yang terekam (recorded material), maupun yang terdigitasi (digitalized material). Kalau diperhatikan diagram saluran informasi, maka dapat diketahui bahwa informasi tersalur dalam sejumlah media atau saluran:
·         media tercetak (buku, terbitan berkala, bahan yang tidak diterbitkan),
·         dalam media non buku dan non cetak (yang biasa disebut sebagai dokumen korporil) seperti tulisan pada batu, kulit kayu, kulit binatang yang pada umumnya merupakan koleksi museum kebudayaan,
·         dalam memori para narasumber, pakar, ahli bidang, penemu, dan konsultan
·         dalam media terekam, baik yang berupa media pandang, media dengar, maupun media pandang-dengar
·         dalam media terdigitasi yang berupa perangkat lunak atau file dalam komputer atau dalam jaringan komputer (internet)
·         dalam organisasi profesi atau lembaga ilmiah, dimana selain para pakar juga terdapat berbagai dokumen, khususnya yang tidak dipublikasikan, yang dihasilkan oleh organisasi/lembaga itu

Sebagian besar media/saluran informasi tersebut terdapat dalam perpustakaan; sedang media/saluran yang lain dapat diketahui melalui jenis sumber rujukan/referensi (seperti direktori, bibliografi, dan sebagainya), yang juga merupakan salah satu jenis bahan pustaka yang dikoleksikan di perpustakaan. Pendek kata, di dalam perpustakaan dapat diketemukan serba-neka sumber informasi, sehingga Gerald E. Brogan dan Jeanne T. Buck (1969)[14] menyebutnya sebagai supermarket akademik yang menjajakan buku-buku, majalah/jurnal, rekaman, slides, media pengajaran, karya seni, dan bahan-bahan lainnya yang biasa disebut sebagai bahan pustaka.

Jenis-jenis sumber informasi di perpustakaan

Seluruh koleksi bahan pustaka itu merupakan sumber belajar, baik belajar secara formal dalam pendidikan persekolahan/pendidikan tinggi, maupun belajar secara non-formal dalam kursus-kursus dan pelatihan, serta belajar secara informal dalam keluarga atau yang dilakukan secara pribadi (belajar mandiri). Melalui pendayagunaan koleksi perpustakaan setiap pengguna dapat memperoleh informasi yang berupa:
·         ilmu pengetahuan, teori atau pendapat/pandangan para ilmuwan, pakar, ahli bidang, atau biasa juga disebut sebagai informasi konseptual. Jenis informasi ini meliputi informasi tentang pengertian dasar, latar belakang dan sejarah perkembangan, dan teori-teori yang sudah mapan;
·         hasil kajian, temuan, atau pengalaman orang lain, yang biasa disebut sebagai informasi praktikal yang dapat berupa informasi hasil penelitian dan survey, informasi tentang teknik membuat atau melakukan sesuatu (biasa diberi judul: Technical Know-How, atau Chicken Soup)
·         arti kata, padanan kata, istilah-istilah teknis, istilah-istilah gaul, peribahasa, ungkapan, dan sejenisnya
·         riwayat hidup tokoh-tokoh ternama, atau juga daftar orang-orang ternama sesuai bidang keahliannya yang biasanya disertai alamatnya, hasil karyanya, dan cara berkomunikasi dengannya
·         nama-nama geografi (kota, negara, pulau, gunung, sungai, selat, dan sebagainya) yang biasanya disertai dengan koordinat lokasinya
·         kepustakaan atau sumber informasi lain yang dapat dimanfaatkan, yang sangat diperlukan untuk menunjang atau memperkaya wawasan.

Dengan demikian benarlah, bahwa perpustakaan merupakan pusat segala macam sumber informasi, atau merupakan supermarket informasi yang dapat memperkaya para penggunanya dalam hal ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Apabila komoditas dan sumberdaya yang strategis itu dapat didayagunakan secara maksimal dan optimal, maka terbuka peluang bagi setiap warga masyarakat untuk memperoleh kemampuan dan kompetensi yang lebih luas. Hal itu memampukan mereka untuk berkompetisi atau bersaing secara sehat dalam memperebutkan kesempatan kerja, jabatan, atau posisi terhormat dalam masyarakat modern dewasa ini. Dalam konteks perpustakaan sekolah, supermarket informasi tersebut akan memungkinkan dicetaknya lulusan yang kaya akan informasi – tentunya sesuai tingkatan masing-masing – yang kelak dapat memiliki kompetensi yang dapat diandalkan. Tentunya hal itu hanya terjadi jika baik guru sebagai pendidik maupun siswa sebagai peserta didik sama-sama memanfaatkan sumber daya informasi dalam perpustakaan sekolah tersebut secara maksimal.

Perpustakaan dan KBK

            Dalam konteks tuntutan perkembangan demikian itu, dalam dunia pendidikan dewasa ini sedang dikembangkan wacana Kurikulum Berbasis Kompetensi – KBK. Apa persisnya KBK itu tidak akan diuraikan di sini. Namun jika dikaitkan dengan penegrtian kompetensi yang dijelaskan sebelumnya, maka KBK pada hemat saya adalah kurikulum yang diharapkan mampu mengembangkan penguasaan IPTEKS, membentuk sikap/kepribadian, motivasi, keterampilan, dan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan dalam bidang ilmunya – atau berprofesi dalam bidangnya – dengan hasil yang tinggi. Untuk itu, proses pembelajaran yang dikembangkan paling tidak mencakup: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live togehter. Dengan kata lain, proses pembelajaran diarahkan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk memahami dan menguasai bidang ilmunya, kemampuan dan keterampilan untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan bidang ilmu itu, kepautan dan kelayakan untuk menjadi professional dalam bidang ilmunya itu, serta kemampuan dan keterampilan untuk hidup bermasyarakat dalam posisi sebagai professional dalam bidang ilmunya.

            Untuk mencapai tujuan demikian jelaslah bahwa proses pembelajaran harus didukung oleh berbagai jenis sumber informasi sebagai media atau sumber pembelajaran. Dalam dunia pendidikan tinggi, misalnya, kebutuhan sumber informasi untuk mendukung matakuliah meliputi sumber informasi atau buku teks wajib, bahan pustaka sebagai bacaan anjuran atau penunjang, serta bahan pustaka sebagai bahan bacaan pengayaan atau perluasan wawasan. Kurikulumnya sendiri dikelompokkan ke dalam kelompok Matkuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Matakuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), Matakuliah keahlian Berkarya (MKB), Matakuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). Dengan lima kelompok matakuliah itu diharapkan kompetensi lulusan akan dapat dicapai dan dikembangkan. Namun itu semua sangat tergantung kepada tersedianya fasilitas pembelajaran yang memadai, termasuk perpustakaan yang harus ditingkatkan menadi pusat sumber belajar yang lengkap,[15] serta sumber daya manusia tenaga pendidik sebagai fasilitator pembelajaran.

Perpustakaan Sekolah: Fungsi dan Peranannya

            Setelah secara global dijelaskan mengenai peranan perpustakaan dalam sejarah perkembangan peradaban umat manusia, dan di sana-sini disertai dengan uraian tentang tuntutan kompetensi bagi kesejahteraan umat manusia kedepan, maka secara khusus akan dilihat fungsi dan peranan perpustakaan sekolah.

            Seperti juga jenis perpustakaan lain, fungsi perpustakaan sekolah mencakup:

(1). Fungsi Edukasi, yakni mendukung terselenggaranya proses pembelajaran yang efektif, yang diselenggarakan oleh lembaga induknya. Fungsi ini diperankan dengan menyediakan koleksi bahan pustaka sumber pembelajaran (buku teks, buku pengayaan pengetahuan, dan buku pengetahuan umum lainnya);
(2). Fungsi Riset, yakni fungsi untuk mendukung terselenggaranya proses pencarian jawaban atas permasalahan/pertanyaan yang dilontarkan oleh fasilitator pembelajaran. Fungsi ini diperankan dengan menyediakan koleksi sumber-sumber rujukan, seperti ensiklopedi, kamus, direktori, indeks, abstrak, dan sebagainya, termasuk sumber-sumber audio-visual dan sumber-sumber digital. Tidak sedikit sekolah di negara ini yang telah menyelenggarakan layanan internet bagi siswanya!
(3). Fungsi Kulturasi, yakni mendukung peningkatan apresiasi budaya, pembentukan insan beradab, dan pemanfaatan hasil-hasil kemajuan peradaban demi meningkatkan kesejahteraan hidup. Fungsi ini diperankan melalui penyediaan koleksi bahan bacaan yang mengandung materi pembelajaran kebudayaan, kemanusiaan, tata nilai, pengalaman hidup, spiritualitas, dan sebagainya.
(4). Fungsi Informasi, yakni menjadi pusat penyediaan informasi bagi masyarakat, khususnya masyarakat pengguna utamanya. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran sebagai pusat sumber informasi, pusat pelayanan informasi (memberikan atau menunjukkan jawaban atas berbagai pertanyaan dan kebutuhan informasi), pusat atau anggota jaringan pelayanan informasi (information networking), serta pusat akses kepada informasi, termasuk informasi global dalam internet. 
(5). Fungsi Rekreasi, yakni menjadi salah satu penyedia sarana yang memberikan hiburan, penyegaran jiwa, pemenuhan hobi dan kegemaran, serta memberikan informasi lain yang menyenangkan. Fungsi ini dilaksanakan dengan menyediakan berbagai bacaan ringan, bacaan hobi dan kegemaran, bacaan kesenian, dan bacaan-bacaan ringan lainnya.
(6). Fungsi Dokumentasi, yakni menjadi pusat penyimpanan atau pengelolaan karya (tulis) umat manusia, khususnya warga masyarakat terdekat. Fungsi ini menonjol pada perpustakaan nasional, yakni sebagai pusat dokumentasi karya nasional (karya anak bangsa); perpustakaan perguruan tinggi, sebagai pusat penyimpanan karya sivitas akademika; dan perpustakaan khusus lembaga-lembaga ilmiah, sebagai pusat penyimpanan hasil-hasil kegiatan lembaga tersebut. 

Namun secara khusus, sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0103/O/1981 tanggal 11 Maret 1981, perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai:
(1)          pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah;
(2)          pusat penelitian sederhana, yang memungkinkan para siswa dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasinya; serta
(3)          pusat membaca guna menambah ilmu pengetahuan, rekreasi, dan mengisi waktu terluang.

Dengan Kep Mendikbud 24 tahun lalu itu saja sebenarnya proses pembelajaran sudah harus berbasis pada pemanfaatan perpustakaan sekolah secara maksimal. Dalam perpustakaan sekolah demikian itu, selain buku teks / buku pegangan guru, juga harus tersedia buku lain untuk menambah ilmu pengetahuan, memperkaya wawasan siswa, dan buku-buku yang mendorong pengembangan kreativitas dan imajinasi siswa. Di pihak lain, para guru kelas atau guru bidang studi juga harus secara maksimal memanfaatkan koleksi dan layanan perpustakaan sekolah, misalnya: berkoordinasi dengan pustakawan sekolah untuk menyiapkan buku-buku yang berkaitan dengan mata pelajaran atau topik tertentu, mengajak para siswa untuk memasuki ruang perpustakaan dan menunjukkan bahan-bahan bacaan yang terkait dengan mata pelajaran atau topik tertentu, menugasi siswa untuk secara berkelompok melakukan penelitian sederhana tentang sesuatu topik (membaca uraian tentang topik itu dari berbagai buku/bacaan, membuat ringkasannya, lalu mempresentasikannya di depan kelas), dan berbagai bentuk kegiatan lain yang dapat dirancang bersama dengan pustakawan sekolah.

            Persoalannya adalah, jika proses pembelajaran suatu mata pelajaran dilakukan dengan ”macam-macam” cara/acara/kegiatan, biasanya lalu dikhawatirkan bahwa materi pelajaran tidak akan selesai! Jangankan ’macam-macam,’ dengan satu macam saja (yakni ceramah atau uraian di depan kelas), kadang-kadang materi pelajaran tidak selesai, sehingga harus ada tambahan jam pelajaran. Akibatnya, perpustakaan sekolah hampir tidak difungsikan secara terprogram.

Mengembangkan Kegemaran dan Kebiasaan Membaca

            Salah satu masalah yang sangat mendasar yang berpengaruh kepada maksimalisasi pemanfaatan perpustakaan adalah minat dan kegemaran membaca. Bukan rahasia lagi bahwa hampir sebagian besar siswa/mahasiswa – dan kiranya juga guru/dosen – dewasa ini belum memiliki tingkat kegemaran dan kebiasaan membaca yang cukup tinggi. Budaya baca masih kalah dari budaya mendengar dan melihat. Oleh karena itu tayangan televisi atau pemutaran film jauh lebih menarik daripada membaca.

            Sering terjadi bahwa kelemahan dalam aspek ini disebabkan oleh kelemahan pembinaan pada tingkatan atau jenjang pendidikan yang paling rendah, yakni sekolah dasar. Karena tidak dilakukan pembinaan kegemaran dan kebiasaan membaca di sekolah, maka ketika sampai di jenjang pendidikan tinggi pun para mahasiswa itu tidak memiliki kegemaran dan kebiasaan membaca yang memadai. Hal itu ada benarnya, karena masa peka anak-anak terhadap sesuatu keterampilan pada umumnya terjadi pada usia sekolah dasar. Oleh karena itu pentinglah apabila pada masa pendidikan dasar, di sekolah dasar khususnya, dilakukan program dan kegiatan pembinaan kegemaran dan kebiasaan membaca.

            Program pembinaan kegemaran dan kebiasan membaca itu secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua program besar, yakni:
(1)   belajar membaca (learning to read), dan
(2)   membaca untuk belajar (reading to learn).

Pelaksanaan kedua jenis program ini disesuaikan dengan tingkatan perkembangan kesiapan peserta didik dalam memahami sesuatu (perkembangan kognitifnya). Oleh karena itu, sangat perlulah bahwa para guru dan pustakawan sekolah benar-benar memahami bahkan menguasai psikologi perkembangan anak dan psikologi membaca.

Learning to read

            Program learning to read dimaksudkan untuk menanamkan keterampilan kepada anak agar dapat membaca, menyadari kegunaan dari membaca itu, sehingga pada akhirnya timbul keinginan dan kegemaran untuk membaca. Program ini diarahkan kepada para peserta didik kelas-kelas awal (1-3) sekolah dasar. Topik-topik yang dibahas dalam program meliputi:
(1)   pengenalan abjad dan sistem alfabet (urutan abjad, bunyi abjad, penggandengan abjad, urutan kata menurut abjad, dan sebagainya); ini dilakukan dalam rangka belajar membaca dasar, yang kemudian dilanjutkan dengan butir kedua berikut:
(2)   pengenalan cara membaca rangkaian huruf menjadi suku kata, dan rangkaian suku kata menjadi kata dengan cara mengeja dan membaca dengan keras
(3)   membacakan ceritera dan menceritakan kembali isi bacaan; dimaksudkan agar siswa tertarik pada isi bacaan sehingga terdorong untuk bisa membaca sendiri
(4)   mempromosikan/menunjukkan buku sebagai sumber bacaan, dan cara-cara perlakuan yang baik terhadap buku, seperti cara memegang, cara membuka, menandai halaman ketika istirahat membaca
(5)    pengenalan bagian-bagian buku, terutama: pengenalan halaman judul, halaman kata pengantar, dan halaman isi
(6)   Pengenalan macam-macam buku selain buku cerita, seperti buku teks (buku pelajaran), buku bacaan hiburan, buku pengetahuan umum, dan sebagainya.

Dengan rangkaian pengenalan dan latihan tersebut – yang sebagaian besar dilakukan oleh guru bidang studi Bahasa Indonesia – diharapkan para siswa sudah memiliki kebiasaan atau kemampuan untuk membaca, kendati jenis bacaannya barangkali masih didominasi oleh bacaan-bacaan ringan, seperti buku cerita, termasuk komik. Pada tahap berikut, yakni membaca untuk belajar, harus diusahakan agar minat membaca ini diarahkan kepada bahan-bahan pelajaran, sehingga bukan hanya guru Bahasa Indonesia yang terlibat, melainkan juga guru bidang studi lainnya.

Reading to Learn

            Program kedua yang merupakan peningkatan program pertama adalah program membaca untuk belajar, untuk memperoleh hasil belajar. Tujuan program ini adalah agar siswa dapat membaca secara efektif sehingga memperoleh pengetahuan atau informasi baru. Yang dimaksud dengan membaca secara efektif adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara yang mudah namun tepat, cepat, sistematis, dan memberikan pemahaman yang benar. Untuk itu dikembangkan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
(1)   pengenalan bagian-bagian buku, fungsi dari bagian-bagian itu, dan jenis informasi yang diperoleh dari masing-masing bagian tersebut
(2)   mengenal dan menggunakan daftar isi dan indeks isi buku; Dengan mengetahui hal ini, maka pembaca tidak harus secara tuntas membaca seluruh isi buku, dari awal hingga akhir, melainkan hanya membaca pada bagian-bagian teretntu secara sistematis
(3)   penugasan untuk membaca isi bagian atau bab tertentu dalam sebuah buku (chapter report), dan melaporkannya secara lisan (menceritakan kembali isi buku); guru yang memberi tugas harus memilih buku yang menarik minat siswa, sehingga siswa tidak merasa terpaksa dalam membaca
(4)   penugasan untuk membaca sebuah buku sampai selesai, dan melaporkan isi buku tersebut secara tertulis (book report)
(5)   pengenalan sumber-sumber rujukan, seperti kamus dan ensiklopedi, serta cara menelusurnya
(6)   penugasan untuk membuat suatu tulisan pendek (artikel) berdasarkan beberapa buku atau sumber rujukan.

Peranana guru non-bahasa yang paling utama adalah mengusahakan agar siswa gemar membaca buku-buku penunjang pelajaran bidang studinya. Untuk itu, para guru harus menunjukkan judul-judul buku yang ada di perpustakaan, dan menjadikan buku-buku tersebut sebagai bagian dari materi pelajarannya.

Peranan Guru dalam Mempromosikan Perpustakaan

Menanamkan kebiasaan baik, termasuk kebiasaan membaca, tidak selalu mudah. Apalagi jika kebiasaan itu harus dibangun dan dikembangkan secara tekun dan penuh perjuangan. Kebiasaan baik dan kegemaran berbuat baik di kalangan anak-anak biasanya timbul berkat pengaruh baik lingkungan. Demikian pula halnya dengan kebiasaan membaca.

   Lingkungan pertama yang seharusnya memberikan pengaruh kondusif bagi tumbuh-kembangnya kebiasaan dan kegemaran membaca adalah lingkungan keluarga. Oleh karena itu peranan ayah-ibu-kakak-saudara yang telah dewasa terhadap anak-anak sangatlah besar. Anak-anak hanya akan tertarik untuk membaca apabila mereka melihay ayah-ibunya selalu menggunakan waktu luang untuk membaca, bahkan selalu menciptakan waktu khusus untuk membaca. Keinginan untuk ikut membaca akan timbul apabila di dalam keluarga itu tersedia bahan bacaan, apalagi jika bahan bacaan itu sesuai dengan minat dan kegemaran serta kemampuan anak.

Lingkungan kedua yang berpengaruh cukup besar, bahkan sering lebih besar daripada pengaruh dari ayah-ibu, adalah lingkungan sekolah, khususnya lingkungan dewan guru. Pada umumnya anak-anak akan lebih patuh pada perintah guru daripada perintah orangtua. Apa yang dikatakan oleh guru di sekolah – sekalipun kadang-kadang sedikit keliru – dibela mati-matian oleh anak-anak sewaktu mereka berselisih pendapat dengan orangtua di rumah. Kondisi psikologis anak demikian ini sangat baik jika dimanfaatkan dalam rangka menumbuh-kembangkan minat, kegemaran, dan kebiasaan membaca. Untuk itu sangatlah penting bahwa para siswa melihat dan mendapati para guru mereka keluar-masuk ruang perpustakaan, atau tekun membaca di sana, atau meminjam buku untuk dibawa ke ruang kelas. Karena itu amat baiklah apabila dalam waktu luang dan jam kosongnya, para guru menggunakan waktu itu untuk membaca-baca, atau mempersiapkan SAP-nya di ruang perpustakaan. Untuk itu, memang amat perlu bahwa para guru dibekali dengan pengetahuan tentang perpustakaan dan keterampilan menggunakannya.[16]

Ringkasnya,[17] untuk mengaktifkan perpustakaan sekolah, pertama-tama para guru sendiri harus aktif menggunakan perpustakaan, sehingga mereka dapat menjadi pembimbing pembinaan minat baca siswa. Keaktifan menggunakan perpustakaan itu harus dapat diperlihatkan kepada siswa melalui sikap dan perilaku nyata bahwa ia selalu membaca. Oleh karena itu, guru harus rajin mengunjungi perpustakaan sekolah atau ruang baca untuk mencari dan membaca buku. Untuk guru kelas-kelas tinggi, sangat penting apabila sebelum memberikan matapelajarannya, ia telah lebih dahulu mendaftar sejumlah judul buku yang terkait, dan jika perlu bekerjasama dengan pustakawan sekolah mempersiapkan buku-buku itu pada tempat khusus (cadangan) agar setelah matapelajaran selesai, para siswa dapat ditugaskan untuk membaca buku-buku tersebut.

Sementara itu, melalui berbagai ilustrasi dalam proses pembelajarannya, guru harus dapat memperlihatkan bahwa ia banyak membaca, sehingga dapat memberikan banyak ilustrasi. Uraian atau ceramahnya juga harus dapat menunjukkan bahwa ia mengatahui berbagai macam jenis buku dan menyebutkan judul-judul buku yang telah dibacanya, dan kadang-kadang menunjukkan buku itu kepada siswa di kelas, serta membacakan bagian-bagian isi buku yang dianggap penting.

Wasana Kata

Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, karena dalam perpustakaan sekolah seyogyanya dikoleksikan berbagai media atau bahan pustaka sumber pembelajaran yang komprehensif, relevan, dan mutakhir. Namun keberadaan perpustakaan sekolah tidak secara otomatis berfungsi menunjang kelancaran dan peningkatan kualitas pembelajaran, manakala tidak ada usaha yang sistematis untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca. Untuk menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca di kalangan para siswa, peranan guru sangat menentukan. Melalui teladan perilaku konkrit bahwa ia mempunyai minat terhadap buku, dan bahwa ia senantiasa membaca serta senantiasa mengunjungi perpustakaan di sekolah, guru akan secara efektif menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca di kalangan para siswanya.

Semoga melalui sosialisasi singkat ini dapat ditingkatkan pemahaman dan kesadaran para guru akan peran dan tanggungjawab mereka dalam menyiapkan sumber daya manusia masa depan yang kaya informasi.

Jayapura, 19 Nopember 2005.           



Penyusun

A.C. Sungkana Hadi
Pustakawan Madya


Daftar Bacaan Sumber:.


[i] Makalah disajikan dalam “Sosialisasi Manfaat Perpustakaan Sekolah bagi Guru pada SD YPPK Gembala baik, Abepura, 19 Nopember 2005.
[ii] Pustakawan Madya, UPT Perpustakaan Universitas Cenderawasih

[1]Alvin Toffler (1980). The Third Wave. New York: Bantam.
[2]John Naisbitt (1982). Megatrends: Ten New Directions Transforming Our Lives. New York: Warner Books.
[3]Cliff Stoll (1992). “Computers, Society, and Ethics.” In: Robert H. Blissmer (1992). Introducing Computers: Concepts, Systems, and Applications, 1992-1993 edition. New York: John Wiley & Sons, Inc., p. 54-76.
[4]“Roda.” Ensiklopedia Nasional Indonesia, edisi 1990, v. 14: 234.
[5]“Gigi, Roda.” Ensiklopedia Nasional Indonesia, edisi 1990, v.6: 160-161
[6]A. Haryono (1986). Kamus penemu. Jakarta: Penerbit PT Gramedia, p. 123-124
[7] “Edison, Thomas Alva (1847-1931).” Ensiklopedi Nasional Indonesia, edisi 1990, v.5: 8-9
[9] R.J. Mirabile (1997). “Everything you wanted to know about competency modeling.” Training and Development Journal, 40 (8): 73-78
[10]R.E. Boyatzis (1987). The competent manager: a model for effective performance. New York: Wiley and Sons
[11]Diturunkan dari: A Practical Model for Identifying and Assesing Work Competencies. Chee-Leong Chong, Yuen-Ping Ho, Hwee-Hoon Tan, and Kwan-Kee Ng (http://www.esc.edu/ESConline/Across_ESC/Forumjournal.nsf/wholeshortlinks2/Work+Competencies). Juga dari: Competencies of Law Librarianship. Approved by the Executive Board March 2001, Tab34A (http://www.aallnet.org/prodev/competencies.asp). 
[12]Cf. Andre Maurois (1977). Perpustakaan Umum dan Pembangunan (terjemahan). Jakarta: Pusat Pembinaan Perpustakaan. Atau: Sulistyo Basuki (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[13]Edgar Dale (1969). Audiovisual methods in teaching, 3rd ed. New York: The Dryden Press/Holt, Rinehart and Winston, p.108-135.
[14]Gerald E. Brogan dan Jeanne T. Buck (1969). Using Libraries Effectively. Belmont, Cal.: Dickenson Publishing Company.
[15]Cf. A.C. Sungkana Hadi (ACS Hadi, 1984). ”Meningkatkan perpustakaan sekolah menjadi sumber belajar.” Pembimbing Pembaca, 3 (5) Mei 1984: 196-200. 235.
[16]Cf. ACS Hadi (1984). “Program kilat pengadaan pustakawan guru (Sekedar pendapat).” Pembimbing Pembaca, 3 (11) November 1984: 496-499.
[17]Cf. ACS Hadi (1984). “Mengaktifkan perpustakaan sekolah: Pengamatan dan refleksi atas perpustakaan aktif.” Pembimbing Pembaca, 3 (12) Desember 1984: 544-547; H. Fauzie Bafadal (1984), ”Bimbingan membaca.” Pembimbing Pembaca, 3 (7) Juli 1984: 314-319; Orbet Mandala (1986). “Perpustakaan sekolah sebagai innovator pendidikan.” Pembimbing Pembaca, 5 (12) Desember 1986: 572-576.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar