PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENUNJANG
PENGEMBANGAN PENDIDIK MENJADI FASILITATOR PEMBELAJARAN
DAN PESERTA DIDIK MENJADI SUMBER DAYA MANUSIA MASA DEPAN
Oleh
Pada umumnya sejarah perkembangan
peradaban manusia itu dapat diringkaskan kedalam tataran masa pra revolusi
pertanian atau pra revolusi hijau, masa revolusi hijau, masa revolusi industri,
dan dewasa ini tataran masa revolusi informasi.
Tiga tataran terakhir oleh Alvin
Toffler (1980)[1] disebut sebagai gelombang pertama,
gelombang kedua, dan gelombang ketiga. Sementara itu, John Naisbit (1982)[2] melukiskan bahwa dalam gelombang ketiga
terjadi perubahan signifikan dalam angkatan kerja. Jika pada gelombang kedua
(revolusi industri) 62% angkatan kerja bekerja pada sektor
industri/pemroduksian barang (blue collar),
21% pada sektor pertanian, dan hanya 17% pada sektor jasa dan layanan (white collar), maka pada gelombang
ketiga (revolusi informasi), 60% angkatan kerja bekerja pada sektor jasa dan
layanan (white collar) dan prosentase
ini akan makin meninggi, sedangkan kurang dari 20% angkatan kerja pada sektor
industri/pemroduksian barang (blue collar),
dan prosentase ini akan semakin menurun.[3]
Apa makna perubahan itu? Apa kaitannya
dengan lembaga pendidikan yang pada akhirnya akan menghasilkan angkatan kerja
masa depan? Apa hubungannya dengan informasi? Dan apa kaitannya dengan
penggunaan perpustakaan sekolah? Pertanyaan-pertanyaan itu hendaknya dapat
menggugah dan memotivasi Bapak-Ibu Guru pada Sekolah ini untuk lebih menyadari
pentingnya perpustakaan sekolah dan mendayagunakannya, setelah selesai mengikuti kegiatan ini.
Ilustrasi Sejarah Peradaban
Sejarah peradaban umat manusia ditandai
dengan berbagai penemuan yang menghasilkan perubahan dan kemajuan. Pada umumnya
para ahli berpendapat, bahwa ’roda’ yang ditemukan pada sekitar tahun 4000
sebelum Masehi, adalah perkakas mekanis paling penting yang pernah ditemukan
manusia, dan dianggap sebagai salah satu tonggak perubahan yang sangat
menentukan. Hal itu karena dengan sistem yang berbasis roda maka segala sesuatu
dapat digerakkan dengan lebih mudah. Penemuan ini memungkinkan terjadinya
revolusi dalam dunia keperkakasan dan peralatan.[4]
Penemuan roda biasa ini kemudian ditunjang dengan pengembangan roda bergigi yang
dapat menggerakkan sejumlah roda lain yang dikaitkan satu sama lain, yakni
dengan memindahkan putaran dari satu poros ke poros lainnya.[5] Aplikasi dari sistem roda bergigi ini antara
lain dalam arloji (yang berbasis per), yang pergerakan mekanisnya dihasilkan
oleh sinergi sejumlah roba bergigi dalam berbagai bentuk dan ukuran. Penerapan
sistem roda bergigi dalam perkakas atau peralatan lain dapat menimbulkan arus
listrik, yang kekuatannya dapat menggerakkan berbagai bentuk peralatan secara
otomatis, bukan hanya mekanis.
Dalam dunia ilmu pengetahuan dan
informasi, penemuan mesin cetak pada abad 15 juga merupakan salah satu tonggak
perubahan yang sangat penting. Dengan mesin cetak maka segala bentuk informasi
dapat dengan mudah digandakan dan kemudian disebarluaskan. Penemuan berikut
yang dianggap sangat menentukan perkembangan peradaban hingga saat ini adalah
penemuan prototipe mesin hitung otomatis oleh Blaise Pascal (1623-1662) pada tahun 1642, yang dapat melaksanakan
kegiatan aritmetika sendiri (otomatis). Penemuan ini mendasari seluruh upaya pengembangan komputasi yang antara lain
menghasilkan perangkat komputer pada
tahun 1946. Hal ini karena ditunjang oleh penemuan lain sebelumnya yang sangat
penting, yakni penemuan alat untuk menghasilkan muatan listrik dan lampu pijar
listrik. Alat untuk menghasilkan muatan listrik dan batere ditemukan oleh Alessandro Volta (1745-1827) pada tahun
1774; sedangkan sistem distribusi listrik, stasiun tenaga listrik, dan lampu
pijar listrik ditemukan oleh Thomas Alva
Edison (1847-1931) pada tahun 1867.[6]
Penemuan dalam bidang kelistrikan ini mendorong terjadinya revolusi yang lebih
dahsyat, yakni revolusi industri.[7]
Berkat penemuan listrik dan lampu pijar listrik tersebut, dewasa ini – sekitar
140 tahun kemudian, umat manusia dapat menikmati berbagai peralatan yang
bekerja secara otomatis. Pengembangan atas penemuan-penemuan spektakuler
tersebut menghasilkan sistem komputer digital yang dewasa ini berkembang dengan
sangat cepat.
Teknologi Informasi dan Masyarakat Informasi
Perkembangan teknologi komputer tersebut
mendasari perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikasi yang
semakin pesat dan semakin canggih, terutama sejak sekitar pertengahan dasawarsa
1980-an. Perkembangan teknologi informasi itu pulalah yang memungkinkan
terjadinya revolusi informasi.
Peradaban umat manusia yang berkembang berkat terjadinya revolusi
informasi itu melahirkan apa yang disebut masyarakat
informasi, yakni masyarakat yang terstruktur berdasarkan prinsip informasi sebagai komoditas dan sebagai
sumberdaya yang strategis. Dengan kata lain, masyarakat informasi adalah
masyarakat yang pola hidup dan peri kehidupannya didasarkan pada pengolahan
informasi. Hal ini dipermudah berkat berkembangnya teknologi informasi dan
komunikasi (information and communication
technology – ICT), yang disatu pihak memfasilitasi terjadinya percepatan
dan pelipatgandaan pemroduksian informasi, namun dilain pihak juga memudahkan
pengelolaan dan pemanfaatan informasi tersebut. Pada sekitar 1988, di
pusat-pusat kemajuan teknologi di Tanah Air kita telah dapat diketemukan
perangkat-perangkat Personal Computer
(PC), setelah PC pertama diperkenalkan oleh IBM pada tahun 1981.
Perubahan peradaban, khususnya dari
tataran revolusi industri ke tataran revolusi informasi, mungkin memang paling
nampak pada masyarakat industri di negara-negara maju. Kebutuhan mereka akan
informasi yang aktual, akurat, dan komprehensif memang sangat dirasakan sebagai
sesuatu yang mendesak karena adanya kompetisi dalam rangka pengembangan industri.
Kebutuhan ini terjadi bukan saja di kalangan industrialis untuk lebih
meningkatkan kualitas dan keanekaragaman produk mereka, tetapi juga di kalangan
masyarakat pengguna produk untuk dapat memilih produk yang paling relevan
dengan kebutuhan mereka untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup.
ICT sangat mendorong terjadinya peningkatan kualitas dan keanekaragaman hasil
produksi. Angkatan kerja dalam sektor industri, misalnya, tidak lagi didominasi
oleh tenaga yang memerlukan kekuatan otot, melainkan semakin banyak didominasi
oleh tenaga yang memerlukan keterampilan teknis dalam mengoperasikan
mesin-mesin yang terkomputerisasi. Angkatan kerja yang tidak memiliki
keterampilan dan pengetahuan yang berorientasi pada sistem komputer ini lama
kelamaan akan tersisih.
Apa relevansi dari hal-hal tersebut dengan dunia
pendidikan? Apa perlunya insan pendidikan mempermasalahkan hal-hal tersebut?
Informasi dan Kompetensi
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa
perkembangan peradaban dalam masyarakat informasi menuntut setiap warga
masyarakat, khususnya angkatan kerja (termasuk
para guru dan dosen) dan calon angkatan kerja (generasi muda, peserta didik),
untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Kondisi demikian ini
hanya dimungkinkan apabila mereka mampu menjadikan informasi sebagai sumberdaya
yang strategis, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam mengevaluasi
berbagai hal yang terkait dengan peri kehidupan mereka. Dengan kata lain,
informasi harus dikuasai, dimiliki, dan dimanfaatkan sebagai dasar dari setiap
pelaksanaan program atau kegiatan. Pemanfaatan informasi sebagai sumberdaya
yang strategis itu antara lain demi memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi baik melalui proses alih
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara formal dalam lembaga pendidikan
persekolahan/perguruan tinggi, maupun pemahaman IPTEK melalui belajar mandiri.
Dalam kedua proses ini, diperlukan bahan, media, atau sumber belajar yang
komprehensif, yang semuanya itu dapat diketemukan di suatu perpustakaan.
Dewasa ini sedang giat-giatnya dikembangkan
program KBK, kurikulum berbasis kompetensi. Jika kompetensi yang dituju, maka
tidak ada jalan lain kecuali menguasai sebanyak mungkin informasi yang terkait.
Hal itu karena dalam pengertian kompetensi itu bukan hanya penguasaan
pengetahuan tentang bidang keahliannya, melainkan juga keterampilan
memanfaatkan pengetahuan itu, serta perilaku yang sesuai dengan bidangnya.
Kompetensi itu biasa didefinisikan sebagai pengetahuan
dan keterampilan yang dituntut untuk melaksanakan dan/atau untuk menunjang
pelaksanaan pekerjaan, yang merupakan dasar bagi penciptaan nilai dalam suatu
organisasi.[8] Menurut
definisi ini, faktor-faktor kompetensi yang sangat penting bagi perseorangan
maupun organisasi untuk mencapai keberhasilan meliputi: pengetahuan teknis atau
pengetahuan bidang keahliannya, pengkoordinasian pekerjaan, penyelesaian dan
pencegahan masalah, komunikai dan layanan (untuk mencapai kepuasan pelangan),
dan akuntabilitas (kemampuan mengambil keputusan yang tepat dan
pertanggungjawaban atasnya).
Beberapa definisi tentang kompetensi yang
dirumuskan sejumlah ahli menambhakan unsur motivasi, sikap dan nilai
kepribadian, serta kepercayaan diri; selain itu, juga dikatakan bahwa
kompetensi itu bisa diukur, dan dapat dikembangkan, misalnya melalui pendidikan
dan pelatihan (Mirabile, 1997[9];
Boyatziz, 1982[10]; Parry (1998) dan Spencer and Spencer (1993).[11]
Dari beberapa definisi tersebut dapat
dirumuskan bahwa orang yang berkompeten adalah orang yang penuh percaya diri
karena menguasai pengetahuan dalam bidangnya, memiliki kemampuan dan
keterampilan serta motivasi tinggi dalam mengerjakan hal-hal yang terkait
dengan bidang itu sesuai dengan tata nilai atau ketentuan yang dipersyaratkan.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat
direnungkan dan dirumuskan, seperti apakah profil seorang pendidik atau guru
yang berkompeten? Dari mana kompetensi itu diperoleh dan bagaimana
dikembangkan?
Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar
Sesungguhnya, perpustakaan diciptakan oleh dan
lahir dari proses perkembangan dan kemajuan peradaban umat manusia.[12] Bahkan diakui kemudian, bahwa berkat
lembaga perpustakaan maka kendati bentuk fisik hasil kemajuan peradaban manusia
hancur dan punah, namun deskripsi dan informasi tentangnya masih tetap
terpelihara dalam berbagai dokumen dan/atau kepustakaan. Kejayaan kekaisaran
Romawi, kejeniusan pemikir-pemikir Yunani, ataupun keindahan bangunan-bangunan
monumental dunia masih tetap dapat dilihat, dipelajari, dan dinikmati oleh umat
manusia generasi sekarang ini. Itu semua berkat jasa para pengelola
perpustakaan atau pustakawan kuno, yang terkadang harus menghadapi resiko
kehilangan nyawa karena melindungi karya dokumenter umat manusia dari amukan
api pemusnah sebagai akibat dari kekejaman perang.
Oleh kaum penjajah dan/atau penindas pergerakan
rakyat, perpustakaan dianggap memiliki kekuatan yang sangat besar karena dapat
memberikan inspirasi dan pembelajaran yang mendorong terjadinya peningkatan
kesadaran ekonomis, moral, politis, religius, dan sosial. Kesadaran-kesadaran
ini mendorong terjadinya perlawanan terhadap kesewenang-wenangan, penjajahan,
dan penindasan. Oleh karena itu, dalam berbagai peperangan tidak jarang
dilakukan pembakaran atas berbagai perpustakaan untuk memusnahkan dokumen atau
bahan pustaka sumber inspirasi dan pembelajaran tersebut.
Pengertian Perpustakaan
Pada umumnya jika istilah perpustakaan disebut,
asosiasi kebanyakan orang – termasuk sejumlah pengelola – tertuju kepada sebuah
gedung atau ruangan yang penuh dengan buku yang diatur rapi dalam rak-rak buku.
Apakah buku-buku itu pernah digunakan atau tidak, atau apakah di dalam
gedung/ruangan perpustakaan itu ada pengunjung dan penggunanya atau tidak, itu
tidak termasuk dalam pengertian perpustakaan. Bahkan di beberapa instansi, yang
dinamai perpustakaan itu adalah suatu ruang dengan sejumlah buku yang disusun
dalam beberapa lemari berkaca yang terkunci; ruangannya pun sering terkunci.
“Perpustakaan” yang demikian itu tentu tidak akan mampu berperan dalam proses
alih IPTEK dan proses belajar mandiri.
Perpustakaan yang mampu berperan dalam proses
alih IPTEK dan proses belajar mandiri adalah perpustakaan yang dikelola dengan
baik sebagai sebuah sistem, yang selalu dikembangkan koleksinya, yang dijajakan
(dipromosikan) kepada masyarakat penggunanya, dan yang memberikan layanan
kepada masyarakat penggunanya secara terbuka. Komponen yang harus ada dalam
sebuah perpustakaan meliputi:
(1)
ruangan,
entah ruangan yang merupakan bagian dari suatu gedung yang dipakai bersama,
atau gedung tersendiri secara utuh (hanya untuk perpustakaan);
(2)
koleksi
bahan pustaka, termasuk di dalamnya prasarana untuk menampung/mengatur bahan
pustaka itu (rak buku, rak majalah, rak peta, almari audio-visual, dan
sebagainya);
(3)
sistem
pengelolaan dan pelayanan, meliputi sistem pengolahan bahan pustaka, sistem
pengaturan atau penjajaran bahan pustaka di rak, sistem pelayanan (termasuk
peraturan peminjamannya); dan
(4)
tenaga
pengelola, khususnya pustakawan, yakni orang yang memiliki latar belakang
pendidikan bidang perpustakaan; serta
(5)
masyarakat
pengguna, yang bukan saja ditunggu kedatangannya di perpustakaan melainkan jika
perlu dicari dan diarahkan secara aktif mengunjungi dan menggunakan
perpustakaan.
Perpustakaan yang demikian dipastikan dapat
berperan dalam upaya pengembangan masyarakat
yang sadar informasi, yang kemudian menjadi masyarakat yang kaya informasi (well
informed) karena selalu belajar sehingga
terbentuk masyarakat yang selalu belajar
(learning society), atau
masyarakat yang belajar sepanjang hayat (life-long
learning). Ini semua pertama-tama menjadi tanggung jawab pengelola yang
seharusnya didukung sepenuhnya oleh pemerintah dan masyarakat. Hal itu karena
pada dasarnya perpustakaan adalah lembaga layanan publik untuk mendukung upaya
pencapaian tujuan nasional, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menyelenggarakan perpustakaan dengan layanan yang terbuka bagi masyarakat umum
adalah tugas pemerintah, sama halnya dengan tugas menyelenggarakan layanan
pendidikan, layanan kesehatan, dan layanan penyediaan fasilitas umum lainnya.
Secara khusus, layanan pendidikan mencakup juga layanan perpustakaan sekolah,
yang merupakan bagian integral dari suatu proses pembelajaran.
Proses Pembelajaran - CBSA
Perkembangan
dalam dunia pendidikan – khususnya menyangkut metode dan pengelolaan proses
pembelajaran – telah berlangsung begitu lama. Pada waktu Plato mengembangkan
sistem pembelajaran berbentuk akademi, dia merupakan pusat dari seluruh proses
pembelajaran (teacher oriented) Dia
menguasai seluruh ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada murid-muridnya,
dan kemudian menceramahkannya secara holistik-komprehensif. Pola
teacher-oriented ini bertahan cukup lama. Setelah berkembang cukup banyak buku
teks dan bahan bacaan lain, maka dikembangkan pola pembelajaran yang book-oriented.
Dalam pola pembelajaran demikian, peranan guru adalah sebagai fasilitator
pembelajaran, sebagai perencana proses pembelajaran, dan sebagai pengarah bagi
murid dalam menggunakan sumber-sumber pembelajaran. Oleh karena itu, diharapkan
bahwa para murid atau siswa sendiri yang pro-aktif dalam proses pembelajaran
itu, sehingga kita kenal ada istilah CBSA – Cara
Belajar Siswa Aktif.
Kemampuan
siswa dalam belajar sesungguhnya terkait dengan karakteristik dan potensi
individual masing-masing yang berbeda-beda. Pada tahun 1960-an, Edgar Dale
menggambarkan karakteristik dan potensi atau tingkat kemampuan belajar peserta
didik dengan diagram kerucut pengalaman (the
cone of experiences).[13]
Menurut teori ini, proses belajar anak berlangsung dari tahapan pengalaman
konkrit yang diciptakan dengan tujuan pembelajaran tertentu hingga tahapan
pengalaman abstrak berupa simbol-simbol verbal. Oleh karena itu, proses
pembelajaran yang komprehensif, yang menunjang dicapainya pemahaman yang
mendalam atas materi pembelajaran oleh para siswa, harus dilakukan dengan
menggunakan berbagai media pembelajaran yang disebut audio-visual – bahan
pandang-dengar – atau multi media. Dengan tersedianya media pembelajaran yang
bervariasi ini, maka siswa dapat memilih sendiri media mana yang lebih membantu
dia dalam mempercepat tercapainya pemahaman, dan memilih waktu kapan serta
tempat di mana proses pembelajaran itu akan dilakukan. Konsep atau pola
pembelajaran ini biasa disebut sebagai flexible
learning, pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
kemampuan peserta didik.
Dari
perkembangan pola pembelajaran itu, lalu di mana letak fungsi dan peranan
perpustakaan sekolah? Apa sebenarnya perpustakaan itu?
Perpustakaan sebagai Supermarket Informasi
Dalam arti yang sebenarnya, perpustakaan merupakan
pusat sumber informasi, yakni tempat
pengelolaan segala bentuk sumber informasi, baik yang tercetak (printed material), yang terekam (recorded material), maupun yang
terdigitasi (digitalized material).
Kalau diperhatikan diagram saluran informasi, maka dapat diketahui bahwa
informasi tersalur dalam sejumlah media atau saluran:
·
media
tercetak (buku, terbitan berkala, bahan yang tidak diterbitkan),
·
dalam
media non buku dan non cetak (yang biasa disebut sebagai dokumen korporil)
seperti tulisan pada batu, kulit kayu, kulit binatang yang pada umumnya
merupakan koleksi museum kebudayaan,
·
dalam
memori para narasumber, pakar, ahli bidang, penemu, dan konsultan
·
dalam
media terekam, baik yang berupa media pandang, media dengar, maupun media
pandang-dengar
·
dalam
media terdigitasi yang berupa perangkat lunak atau file dalam komputer atau
dalam jaringan komputer (internet)
·
dalam
organisasi profesi atau lembaga ilmiah, dimana selain para pakar juga terdapat
berbagai dokumen, khususnya yang tidak dipublikasikan, yang dihasilkan oleh
organisasi/lembaga itu
Sebagian besar media/saluran informasi tersebut
terdapat dalam perpustakaan; sedang media/saluran yang lain dapat diketahui
melalui jenis sumber rujukan/referensi (seperti direktori, bibliografi, dan
sebagainya), yang juga merupakan salah satu jenis bahan pustaka yang
dikoleksikan di perpustakaan. Pendek kata, di dalam perpustakaan dapat
diketemukan serba-neka sumber informasi, sehingga Gerald E. Brogan dan Jeanne
T. Buck (1969)[14] menyebutnya sebagai supermarket akademik yang menjajakan buku-buku, majalah/jurnal,
rekaman, slides, media pengajaran, karya seni, dan bahan-bahan lainnya yang
biasa disebut sebagai bahan pustaka.
Jenis-jenis sumber informasi di perpustakaan
Seluruh koleksi bahan pustaka itu merupakan sumber
belajar, baik belajar secara formal dalam pendidikan persekolahan/pendidikan
tinggi, maupun belajar secara non-formal dalam kursus-kursus dan pelatihan,
serta belajar secara informal dalam keluarga atau yang dilakukan secara pribadi
(belajar mandiri). Melalui pendayagunaan koleksi perpustakaan setiap pengguna
dapat memperoleh informasi yang berupa:
·
ilmu
pengetahuan, teori atau pendapat/pandangan para ilmuwan, pakar, ahli bidang,
atau biasa juga disebut sebagai informasi konseptual. Jenis informasi ini
meliputi informasi tentang pengertian dasar, latar belakang dan sejarah
perkembangan, dan teori-teori yang sudah mapan;
·
hasil
kajian, temuan, atau pengalaman orang lain, yang biasa disebut sebagai
informasi praktikal yang dapat berupa informasi hasil penelitian dan survey,
informasi tentang teknik membuat atau melakukan sesuatu (biasa diberi judul: Technical Know-How, atau Chicken Soup)
·
arti
kata, padanan kata, istilah-istilah teknis, istilah-istilah gaul, peribahasa,
ungkapan, dan sejenisnya
·
riwayat
hidup tokoh-tokoh ternama, atau juga daftar orang-orang ternama sesuai bidang
keahliannya yang biasanya disertai alamatnya, hasil karyanya, dan cara
berkomunikasi dengannya
·
nama-nama
geografi (kota, negara, pulau, gunung, sungai, selat, dan sebagainya) yang
biasanya disertai dengan koordinat lokasinya
·
kepustakaan
atau sumber informasi lain yang dapat dimanfaatkan, yang sangat diperlukan
untuk menunjang atau memperkaya wawasan.
Dengan demikian benarlah, bahwa
perpustakaan merupakan pusat segala macam sumber informasi, atau merupakan supermarket informasi yang dapat
memperkaya para penggunanya dalam hal ilmu pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman. Apabila komoditas dan sumberdaya yang strategis itu dapat
didayagunakan secara maksimal dan optimal, maka terbuka peluang bagi setiap
warga masyarakat untuk memperoleh kemampuan
dan kompetensi yang lebih luas. Hal itu memampukan mereka untuk
berkompetisi atau bersaing secara sehat dalam memperebutkan kesempatan kerja,
jabatan, atau posisi terhormat dalam masyarakat modern dewasa ini. Dalam
konteks perpustakaan sekolah, supermarket informasi tersebut akan memungkinkan
dicetaknya lulusan yang kaya akan informasi – tentunya sesuai tingkatan
masing-masing – yang kelak dapat memiliki kompetensi yang dapat diandalkan. Tentunya
hal itu hanya terjadi jika baik guru sebagai pendidik maupun siswa sebagai
peserta didik sama-sama memanfaatkan sumber daya informasi dalam perpustakaan
sekolah tersebut secara maksimal.
Perpustakaan dan KBK
Dalam
konteks tuntutan perkembangan demikian itu, dalam dunia pendidikan dewasa ini
sedang dikembangkan wacana Kurikulum Berbasis Kompetensi – KBK. Apa persisnya
KBK itu tidak akan diuraikan di sini. Namun jika dikaitkan dengan penegrtian
kompetensi yang dijelaskan sebelumnya, maka KBK pada hemat saya adalah
kurikulum yang diharapkan mampu mengembangkan penguasaan IPTEKS, membentuk
sikap/kepribadian, motivasi, keterampilan, dan kemampuan untuk melaksanakan
pekerjaan dalam bidang ilmunya – atau berprofesi dalam bidangnya – dengan hasil
yang tinggi. Untuk itu, proses pembelajaran yang
dikembangkan paling tidak mencakup: learning
to know, learning to do, learning to be, dan learning to live togehter. Dengan kata lain, proses pembelajaran
diarahkan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk memahami dan menguasai
bidang ilmunya, kemampuan dan keterampilan untuk mengerjakan sesuatu
berdasarkan bidang ilmu itu, kepautan dan kelayakan untuk menjadi professional
dalam bidang ilmunya itu, serta kemampuan dan keterampilan untuk hidup
bermasyarakat dalam posisi sebagai professional dalam bidang ilmunya.
Untuk mencapai
tujuan demikian jelaslah bahwa proses pembelajaran harus didukung oleh berbagai
jenis sumber informasi sebagai media atau sumber pembelajaran. Dalam dunia
pendidikan tinggi, misalnya, kebutuhan sumber informasi untuk mendukung
matakuliah meliputi sumber informasi atau buku teks wajib, bahan pustaka
sebagai bacaan anjuran atau penunjang, serta bahan pustaka sebagai bahan bacaan
pengayaan atau perluasan wawasan. Kurikulumnya sendiri dikelompokkan ke dalam
kelompok Matkuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Matakuliah Keilmuan dan
Keterampilan (MKK), Matakuliah keahlian Berkarya (MKB), Matakuliah Perilaku
Berkarya (MPB), dan Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). Dengan lima kelompok matakuliah itu
diharapkan kompetensi lulusan akan dapat dicapai dan dikembangkan. Namun itu
semua sangat tergantung kepada tersedianya fasilitas pembelajaran yang memadai,
termasuk perpustakaan yang harus ditingkatkan menadi pusat sumber belajar yang
lengkap,[15]
serta sumber daya manusia tenaga pendidik sebagai fasilitator pembelajaran.
Perpustakaan Sekolah: Fungsi dan Peranannya
Setelah
secara global dijelaskan mengenai peranan perpustakaan dalam sejarah
perkembangan peradaban umat manusia, dan di sana-sini disertai dengan uraian
tentang tuntutan kompetensi bagi kesejahteraan umat manusia kedepan, maka
secara khusus akan dilihat fungsi dan peranan perpustakaan sekolah.
Seperti
juga jenis perpustakaan lain, fungsi perpustakaan sekolah mencakup:
(1). Fungsi Edukasi, yakni mendukung terselenggaranya
proses pembelajaran yang efektif, yang diselenggarakan oleh lembaga induknya.
Fungsi ini diperankan dengan menyediakan koleksi bahan pustaka sumber
pembelajaran (buku teks, buku pengayaan pengetahuan, dan buku pengetahuan umum
lainnya);
(2). Fungsi Riset, yakni fungsi untuk mendukung
terselenggaranya proses pencarian jawaban atas permasalahan/pertanyaan yang
dilontarkan oleh fasilitator pembelajaran. Fungsi ini diperankan dengan
menyediakan koleksi sumber-sumber rujukan, seperti ensiklopedi, kamus,
direktori, indeks, abstrak, dan sebagainya, termasuk sumber-sumber audio-visual
dan sumber-sumber digital. Tidak sedikit sekolah di negara ini yang telah
menyelenggarakan layanan internet bagi siswanya!
(3). Fungsi Kulturasi, yakni mendukung
peningkatan apresiasi budaya, pembentukan insan beradab, dan pemanfaatan
hasil-hasil kemajuan peradaban demi meningkatkan kesejahteraan hidup. Fungsi
ini diperankan melalui penyediaan koleksi bahan bacaan yang mengandung materi pembelajaran
kebudayaan, kemanusiaan, tata nilai, pengalaman hidup, spiritualitas, dan
sebagainya.
(4). Fungsi Informasi, yakni menjadi pusat penyediaan
informasi bagi masyarakat, khususnya masyarakat pengguna utamanya. Fungsi ini
dilaksanakan melalui peran sebagai pusat sumber informasi, pusat pelayanan
informasi (memberikan atau menunjukkan jawaban atas berbagai pertanyaan dan
kebutuhan informasi), pusat atau anggota jaringan pelayanan informasi (information networking), serta pusat
akses kepada informasi, termasuk informasi global dalam internet.
(5). Fungsi Rekreasi, yakni menjadi salah satu
penyedia sarana yang memberikan hiburan, penyegaran jiwa, pemenuhan hobi dan
kegemaran, serta memberikan informasi lain yang menyenangkan. Fungsi ini
dilaksanakan dengan menyediakan berbagai bacaan ringan, bacaan hobi dan
kegemaran, bacaan kesenian, dan bacaan-bacaan ringan lainnya.
(6). Fungsi Dokumentasi, yakni menjadi pusat
penyimpanan atau pengelolaan karya (tulis) umat manusia, khususnya warga
masyarakat terdekat. Fungsi ini menonjol pada perpustakaan nasional, yakni
sebagai pusat dokumentasi karya nasional (karya anak bangsa); perpustakaan
perguruan tinggi, sebagai pusat penyimpanan karya sivitas akademika; dan
perpustakaan khusus lembaga-lembaga ilmiah, sebagai pusat penyimpanan
hasil-hasil kegiatan lembaga tersebut.
Namun secara khusus, sesuai dengan Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0103/O/1981 tanggal 11 Maret 1981,
perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai:
(1)
pusat
kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum
dalam kurikulum sekolah;
(2)
pusat
penelitian sederhana, yang memungkinkan para siswa dapat mengembangkan
kreativitas dan imajinasinya; serta
(3)
pusat
membaca guna menambah ilmu pengetahuan, rekreasi, dan mengisi waktu terluang.
Dengan Kep Mendikbud 24 tahun lalu itu
saja sebenarnya proses pembelajaran sudah harus berbasis pada pemanfaatan
perpustakaan sekolah secara maksimal. Dalam perpustakaan sekolah demikian itu,
selain buku teks / buku pegangan guru, juga harus tersedia buku lain untuk
menambah ilmu pengetahuan, memperkaya wawasan siswa, dan buku-buku yang
mendorong pengembangan kreativitas dan imajinasi siswa. Di pihak lain, para
guru kelas atau guru bidang studi juga harus secara maksimal memanfaatkan
koleksi dan layanan perpustakaan sekolah, misalnya: berkoordinasi dengan
pustakawan sekolah untuk menyiapkan buku-buku yang berkaitan dengan mata
pelajaran atau topik tertentu, mengajak para siswa untuk memasuki ruang
perpustakaan dan menunjukkan bahan-bahan bacaan yang terkait dengan mata
pelajaran atau topik tertentu, menugasi siswa untuk secara berkelompok
melakukan penelitian sederhana tentang sesuatu topik (membaca uraian tentang
topik itu dari berbagai buku/bacaan, membuat ringkasannya, lalu
mempresentasikannya di depan kelas), dan berbagai bentuk kegiatan lain yang
dapat dirancang bersama dengan pustakawan sekolah.
Persoalannya
adalah, jika proses pembelajaran suatu mata pelajaran dilakukan dengan
”macam-macam” cara/acara/kegiatan, biasanya lalu dikhawatirkan bahwa materi
pelajaran tidak akan selesai! Jangankan ’macam-macam,’ dengan satu macam saja
(yakni ceramah atau uraian di depan kelas), kadang-kadang materi pelajaran
tidak selesai, sehingga harus ada tambahan jam pelajaran. Akibatnya,
perpustakaan sekolah hampir tidak difungsikan secara terprogram.
Mengembangkan Kegemaran dan Kebiasaan Membaca
Salah
satu masalah yang sangat mendasar yang berpengaruh kepada maksimalisasi
pemanfaatan perpustakaan adalah minat dan kegemaran membaca. Bukan rahasia lagi
bahwa hampir sebagian besar siswa/mahasiswa – dan kiranya juga guru/dosen –
dewasa ini belum memiliki tingkat kegemaran dan kebiasaan membaca yang cukup
tinggi. Budaya baca masih kalah dari budaya mendengar dan melihat. Oleh karena
itu tayangan televisi atau pemutaran film jauh lebih menarik daripada membaca.
Sering
terjadi bahwa kelemahan dalam aspek ini disebabkan oleh kelemahan pembinaan
pada tingkatan atau jenjang pendidikan yang paling rendah, yakni sekolah dasar.
Karena tidak dilakukan pembinaan kegemaran dan kebiasaan membaca di sekolah,
maka ketika sampai di jenjang pendidikan tinggi pun para mahasiswa itu tidak
memiliki kegemaran dan kebiasaan membaca yang memadai. Hal itu ada benarnya,
karena masa peka anak-anak terhadap sesuatu keterampilan pada umumnya terjadi
pada usia sekolah dasar. Oleh karena itu pentinglah apabila pada masa
pendidikan dasar, di sekolah dasar khususnya, dilakukan program dan kegiatan
pembinaan kegemaran dan kebiasaan membaca.
Program
pembinaan kegemaran dan kebiasan membaca itu secara garis besar dapat
dikelompokkan ke dalam dua program besar, yakni:
(1)
belajar membaca (learning to read), dan
(2)
membaca untuk belajar (reading to learn).
Pelaksanaan kedua jenis program ini
disesuaikan dengan tingkatan perkembangan kesiapan peserta didik dalam memahami
sesuatu (perkembangan kognitifnya). Oleh karena itu, sangat perlulah bahwa para
guru dan pustakawan sekolah benar-benar memahami bahkan menguasai psikologi
perkembangan anak dan psikologi membaca.
Learning to read
Program
learning to read dimaksudkan untuk menanamkan keterampilan kepada anak agar
dapat membaca, menyadari kegunaan dari membaca itu, sehingga pada akhirnya
timbul keinginan dan kegemaran untuk membaca. Program ini diarahkan kepada para
peserta didik kelas-kelas awal (1-3) sekolah dasar. Topik-topik yang dibahas
dalam program meliputi:
(1) pengenalan abjad dan sistem alfabet
(urutan abjad, bunyi abjad, penggandengan abjad, urutan kata menurut abjad, dan
sebagainya); ini dilakukan dalam rangka belajar membaca dasar, yang kemudian
dilanjutkan dengan butir kedua berikut:
(2) pengenalan cara membaca rangkaian huruf
menjadi suku kata, dan rangkaian suku kata menjadi kata dengan cara mengeja dan
membaca dengan keras
(3) membacakan ceritera dan menceritakan
kembali isi bacaan; dimaksudkan agar siswa tertarik pada isi bacaan sehingga
terdorong untuk bisa membaca sendiri
(4) mempromosikan/menunjukkan buku sebagai
sumber bacaan, dan cara-cara perlakuan yang baik terhadap buku, seperti cara
memegang, cara membuka, menandai halaman ketika istirahat membaca
(5) pengenalan
bagian-bagian buku, terutama: pengenalan halaman judul, halaman kata pengantar,
dan halaman isi
(6) Pengenalan macam-macam buku selain buku
cerita, seperti buku teks (buku pelajaran), buku bacaan hiburan, buku
pengetahuan umum, dan sebagainya.
Dengan rangkaian pengenalan dan latihan
tersebut – yang sebagaian besar dilakukan oleh guru bidang studi Bahasa
Indonesia – diharapkan para siswa sudah memiliki kebiasaan atau kemampuan untuk
membaca, kendati jenis bacaannya barangkali masih didominasi oleh bacaan-bacaan
ringan, seperti buku cerita, termasuk komik. Pada tahap berikut, yakni membaca
untuk belajar, harus diusahakan agar minat membaca ini diarahkan kepada
bahan-bahan pelajaran, sehingga bukan hanya guru Bahasa Indonesia yang
terlibat, melainkan juga guru bidang studi lainnya.
Reading to Learn
Program
kedua yang merupakan peningkatan program pertama adalah program membaca untuk
belajar, untuk memperoleh hasil belajar. Tujuan program ini adalah agar siswa
dapat membaca secara efektif sehingga memperoleh pengetahuan atau informasi
baru. Yang dimaksud dengan membaca secara efektif adalah kegiatan membaca yang
dilakukan dengan cara yang mudah namun tepat, cepat, sistematis, dan memberikan
pemahaman yang benar. Untuk itu dikembangkan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
(1) pengenalan bagian-bagian
buku, fungsi dari bagian-bagian itu, dan jenis informasi yang diperoleh dari
masing-masing bagian tersebut
(2) mengenal dan menggunakan
daftar isi dan indeks isi buku; Dengan mengetahui hal ini, maka pembaca tidak
harus secara tuntas membaca seluruh isi buku, dari awal hingga akhir, melainkan
hanya membaca pada bagian-bagian teretntu secara sistematis
(3) penugasan untuk membaca
isi bagian atau bab tertentu dalam sebuah buku (chapter report), dan melaporkannya secara lisan (menceritakan
kembali isi buku); guru yang memberi tugas harus memilih buku yang menarik
minat siswa, sehingga siswa tidak merasa terpaksa dalam membaca
(4) penugasan untuk membaca
sebuah buku sampai selesai, dan melaporkan isi buku tersebut secara tertulis (book report)
(5) pengenalan sumber-sumber
rujukan, seperti kamus dan ensiklopedi, serta cara menelusurnya
(6) penugasan untuk membuat
suatu tulisan pendek (artikel) berdasarkan beberapa buku atau sumber rujukan.
Peranana guru non-bahasa yang paling utama adalah mengusahakan
agar siswa gemar membaca buku-buku penunjang pelajaran bidang studinya. Untuk
itu, para guru harus menunjukkan judul-judul buku yang ada di perpustakaan, dan
menjadikan buku-buku tersebut sebagai bagian dari materi pelajarannya.
Peranan Guru dalam Mempromosikan Perpustakaan
Menanamkan kebiasaan baik, termasuk kebiasaan membaca,
tidak selalu mudah. Apalagi jika kebiasaan itu harus dibangun dan dikembangkan
secara tekun dan penuh perjuangan. Kebiasaan baik dan kegemaran berbuat baik di
kalangan anak-anak biasanya timbul berkat pengaruh baik lingkungan. Demikian
pula halnya dengan kebiasaan membaca.
Lingkungan
pertama yang seharusnya memberikan pengaruh kondusif bagi tumbuh-kembangnya
kebiasaan dan kegemaran membaca adalah lingkungan keluarga. Oleh karena itu
peranan ayah-ibu-kakak-saudara yang telah dewasa terhadap anak-anak sangatlah
besar. Anak-anak hanya akan tertarik untuk membaca apabila mereka melihay
ayah-ibunya selalu menggunakan waktu luang untuk membaca, bahkan selalu
menciptakan waktu khusus untuk membaca. Keinginan untuk ikut membaca akan
timbul apabila di dalam keluarga itu tersedia bahan bacaan, apalagi jika bahan
bacaan itu sesuai dengan minat dan kegemaran serta kemampuan anak.
Lingkungan kedua yang berpengaruh cukup besar, bahkan
sering lebih besar daripada pengaruh dari ayah-ibu, adalah lingkungan sekolah,
khususnya lingkungan dewan guru. Pada umumnya anak-anak akan lebih patuh pada
perintah guru daripada perintah orangtua. Apa yang dikatakan oleh guru di
sekolah – sekalipun kadang-kadang sedikit keliru – dibela mati-matian oleh
anak-anak sewaktu mereka berselisih pendapat dengan orangtua di rumah. Kondisi
psikologis anak demikian ini sangat baik jika dimanfaatkan dalam rangka
menumbuh-kembangkan minat, kegemaran, dan kebiasaan membaca. Untuk itu
sangatlah penting bahwa para siswa melihat dan mendapati para guru mereka
keluar-masuk ruang perpustakaan, atau tekun membaca di sana, atau meminjam buku
untuk dibawa ke ruang kelas. Karena itu amat baiklah apabila dalam waktu luang
dan jam kosongnya, para guru menggunakan waktu itu untuk membaca-baca, atau
mempersiapkan SAP-nya di ruang perpustakaan. Untuk itu, memang amat perlu bahwa
para guru dibekali dengan pengetahuan tentang perpustakaan dan keterampilan
menggunakannya.[16]
Ringkasnya,[17] untuk mengaktifkan perpustakaan sekolah, pertama-tama para guru sendiri
harus aktif menggunakan perpustakaan, sehingga mereka dapat menjadi pembimbing
pembinaan minat baca siswa. Keaktifan menggunakan perpustakaan itu harus dapat
diperlihatkan kepada siswa melalui sikap dan perilaku nyata bahwa ia selalu
membaca. Oleh karena itu, guru harus rajin mengunjungi perpustakaan sekolah
atau ruang baca untuk mencari dan membaca buku. Untuk guru kelas-kelas tinggi,
sangat penting apabila sebelum memberikan matapelajarannya, ia telah lebih
dahulu mendaftar sejumlah judul buku yang terkait, dan jika perlu bekerjasama
dengan pustakawan sekolah mempersiapkan buku-buku itu pada tempat khusus
(cadangan) agar setelah matapelajaran selesai, para siswa dapat ditugaskan untuk
membaca buku-buku tersebut.
Sementara itu, melalui berbagai ilustrasi dalam proses
pembelajarannya, guru harus dapat memperlihatkan bahwa ia banyak membaca,
sehingga dapat memberikan banyak ilustrasi. Uraian atau ceramahnya juga harus
dapat menunjukkan bahwa ia mengatahui berbagai macam jenis buku dan menyebutkan
judul-judul buku yang telah dibacanya, dan kadang-kadang menunjukkan buku itu
kepada siswa di kelas, serta membacakan bagian-bagian isi buku yang dianggap
penting.
Wasana Kata
Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari
proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, karena dalam perpustakaan sekolah
seyogyanya dikoleksikan berbagai media atau bahan pustaka sumber pembelajaran
yang komprehensif, relevan, dan mutakhir. Namun keberadaan perpustakaan sekolah
tidak secara otomatis berfungsi menunjang kelancaran dan peningkatan kualitas
pembelajaran, manakala tidak ada usaha yang sistematis untuk meningkatkan minat
dan kegemaran membaca. Untuk menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca di kalangan
para siswa, peranan guru sangat menentukan. Melalui teladan perilaku konkrit
bahwa ia mempunyai minat terhadap buku, dan bahwa ia senantiasa membaca serta
senantiasa mengunjungi perpustakaan di sekolah, guru akan secara efektif
menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca di kalangan para siswanya.
Semoga melalui sosialisasi singkat ini dapat ditingkatkan
pemahaman dan kesadaran para guru akan peran dan tanggungjawab mereka dalam
menyiapkan sumber daya manusia masa depan yang kaya informasi.
Jayapura,
19 Nopember 2005.
Penyusun
A.C. Sungkana Hadi
Pustakawan Madya
Daftar Bacaan Sumber:.
[i] Makalah disajikan dalam “Sosialisasi Manfaat
Perpustakaan Sekolah bagi Guru pada SD YPPK Gembala baik, Abepura, 19 Nopember
2005.
[1]Alvin Toffler (1980). The Third Wave. New York :
Bantam.
[2]John Naisbitt (1982). Megatrends: Ten New Directions Transforming Our Lives. New York : Warner Books.
[3]Cliff Stoll (1992). “Computers, Society,
and Ethics.” In: Robert H. Blissmer (1992). Introducing
Computers: Concepts, Systems, and Applications, 1992-1993 edition. New York : John Wiley
& Sons, Inc., p. 54-76.
[4]“Roda.” Ensiklopedia
Nasional Indonesia, edisi 1990, v. 14: 234.
[5]“Gigi, Roda.” Ensiklopedia Nasional Indonesia, edisi 1990, v.6: 160-161
[7] “Edison, Thomas Alva (1847-1931).” Ensiklopedi Nasional Indonesia, edisi
1990, v.5: 8-9
[9] R.J. Mirabile (1997). “Everything you
wanted to know about competency modeling.” Training
and Development Journal, 40 (8): 73-78
[10]R.E. Boyatzis (1987). The competent manager: a model for effective performance. New York : Wiley and Sons
[11]Diturunkan dari: A Practical Model for Identifying and Assesing Work Competencies.
Chee-Leong Chong, Yuen-Ping Ho, Hwee-Hoon Tan, and Kwan-Kee Ng (http://www.esc.edu/ESConline/Across_ESC/Forumjournal.nsf/wholeshortlinks2/Work+Competencies).
Juga dari: Competencies of Law
Librarianship. Approved by the Executive Board March 2001, Tab34A (http://www.aallnet.org/prodev/competencies.asp).
[12]Cf. Andre Maurois (1977). Perpustakaan Umum dan Pembangunan
(terjemahan). Jakarta :
Pusat Pembinaan Perpustakaan. Atau: Sulistyo Basuki (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[13]Edgar Dale (1969). Audiovisual methods in teaching, 3rd ed. New York : The Dryden
Press/Holt, Rinehart and Winston, p.108-135.
[14]Gerald E. Brogan dan Jeanne T. Buck (1969).
Using Libraries Effectively. Belmont , Cal. :
Dickenson Publishing Company.
[15]Cf. A.C. Sungkana Hadi
(ACS Hadi, 1984). ”Meningkatkan perpustakaan sekolah menjadi sumber belajar.” Pembimbing Pembaca, 3 (5) Mei 1984:
196-200. 235.
[16]Cf. ACS Hadi (1984).
“Program kilat pengadaan pustakawan guru (Sekedar pendapat).” Pembimbing Pembaca, 3 (11) November
1984: 496-499.
[17]Cf. ACS Hadi (1984).
“Mengaktifkan perpustakaan sekolah: Pengamatan dan refleksi atas perpustakaan
aktif.” Pembimbing Pembaca, 3 (12) Desember 1984: 544-547; H. Fauzie Bafadal
(1984), ”Bimbingan membaca.” Pembimbing
Pembaca, 3 (7) Juli 1984: 314-319; Orbet Mandala (1986). “Perpustakaan
sekolah sebagai innovator pendidikan.” Pembimbing
Pembaca, 5 (12) Desember 1986: 572-576.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar