PERANAN MINAT BACA DAN LAYANAN
PERPUSTAKAAN
DALAM MENUNJANG TERCIPTANYA SDM PAPUA
YANG CERDAS
DAN BERKARAKTER[1]
Pembicaraan
mengenai minat baca atau budaya baca rasanya sudah begitu sering dilakukan,
entah melalui artikel atau tulisan dalam media cetak, tayangan dalam media
elektronik, maupun pembahasan dalam berbagai seminar atau lokakarya. Para
pembicara atau penulis mencoba membahas atau menyoroti topik yang satu itu dari
berbagai aspek, dengan harapan agar dapat semakin jelas dipetakan kondisi,
permasalahan, dan kaji tindak yang sudah, sedang, atau akan dilakukan.
Harus
dikaui, bahwa pembicaraan mengenai minat baca atau budaya baca memang masih
tetap penting, dan bukan sesuatu yang dicari-cari. Undang-undang Nomor 20 tahun
2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5 bahkan menegaskan
bahwa: Salah satu cara penyelenggaraan pendidikan adalah dengan
mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga
masyarakat. Dengan penegasan
itu maka amat jelas dinyatakan pentingnya membaca bagi proses pendidikan,
termasuk pendidikan bagi warga masyarakat yang tidak lagi bersekolah.
Persoalannya adalah bagaimana budaya membaca itu dikembangkan dan bagaimana membuat
warga masyarakat menyadari pentingnya membaca itu bagi kehidupan mereka.
Dengan istilah ‘budaya’ pada umumnya diartikan
sebagai suatu sistem perilaku atau kebiasaan yang dihayati dan diinternalisasi,
sehingga berpengaruh pada setiap bentuk pernyataan diri. Misalnya, budaya
tertib berlalu-lintas, artinya perilaku dan kebiasaan berlalu lintas secara
tertib, taat pada peraturan, yang secara otomatis dihayati, bukan karena
dipaksakan atau diawasi oleh polisi lalu lintas. Dengan kata lain,
berlalu-lintas secara tertib sudah membudaya dalam diri yang bersangkutan.
Pertanyaannya, apakah membaca sudah merupakan perilaku atau kegiatan dan
kebiasaan yang dihayati oleh setiap warga masyarakat.
Minat dan
Kebiasaan Membaca
Jika
dirangkumkan pengertian dari beberapa literatur, minat adalah gejala psikologis
yang menunjukkan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek karena adanya
perasaan senang atau ketertarikan kepada obyek tersebut. Minat juga merupakan
kekuatan yang mendorong seseorang menaruh perhatian pada hal-hal tertentu (orang,
situasi, acara, aktivitas, dan lain-lain), dan kemudian melakukan tindakan atau
aksi tertentu baik fisis maupun psikhologis terhadap hal tersebut.
Berdasarkan
pengertian yang umum ini, maka minat baca atau lebih tepatnya minat membaca,
adalah suatu dorongan psikhologis yang mengarahkan seseorang untuk membaca.
Dorongan ini pada awalnya mungkin hanya karena tertarik melihat gambar-gambar
atau ilustrasi dalam suatu bacaan, dan setelah itu kemudian tertarik untuk
mengetahui hal-ihwal tentang gambar atau ilustrasi itu yang tersaji dalam
bacaan. Jika dari melihat gambar dan membaca uraian tentangnya kemudian timbul
rasa senang, maka lain kali akan timbul dorongan untuk mencari
gambar-gambar dan bacaan lainnya dan kemudian membacanya. Jika hal ini dipupuk
terus, dan tersedia fasilitas serta sarana untuk itu, maka minat membaca itu
akan menghasilkan kebiasaan membaca, dan kebiasaan membaca akan melahirkan
budaya membaca.
Dengan
demikian jelas, bahwa timbulnya minat membaca dipengaruhi oleh dua faktor,
yakni faktor internal berupa dorongan kejiwaan, dan faktor eksternal berupa
obyek yang menarik dalam hal ini bahan bacaan. Selain itu, faktor eksternal
juga berupa bimbingan, penyadaran, dan terutama teladan yang diberikan oleh
orang lain (terutama orangtua/orang dewasa, dan keluarga) yang menunjukkan
bahwa membaca itu ternyata menyenangkan, menimbulkan kegembiraan (misalnya tertawa
berkepanjangan setelah membaca sesuatu yang lucu), meningkatkan kepandaian
(misalnya mendapatkan hasil belajar yang tinggi), memperkaya informasi dan
memperluas pengetahuan (misalnya: bisa menjawab semua pertanyaan atau
memberikan informasi/penjelasan setelah membaca bahan-bahan referensi).
Persoalannya
adalah bagaimana ditimbulkan ketertarikan akan bahan bacaan itu? Konkritnya,
bagaimana diupayakan agar anak-anak, siswa, dan/atau warga masyarakat pada
umumnya memiliki minat membaca, dan siapa yang bertanggungjawab
mengupayakannya?
Manfaat Membaca
Satu
hal harus disadari bersama – dan disadarkan kepada anak-anak, para siswa, dan
warga masyarakat – bahwa membaca bukan hanya merupakan kewajiban bagi mereka
yang masih duduk di bangku pendidikan. Membaca bukan hanya untuk mengerti
pelajaran dan memperoleh pengetahuan dari buku-buku pelajaran sehingga nantinya
bisa menjawab soal-soal ulangan atau ujian. Membaca diperlukan untuk memperoleh
informasi atau pengetahuan yang dibutuhkan untuk memperluas cakrawala dan
kerangka berpikir yang amat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai masalah dan
tantangan dalam kehidupan.
“Membaca bukan saja menambah pengetahuan
Anda, tetapi juga membuat Anda cakap hidup di dunia ini dengan mudah.”
Demikian suatu kesimpulan dari tulisan pendek berjudul Advantages of Reading[3] yang
ditayangkan pada tanggal 26 Juni 2008 dalam suatu situs. Lanjut tulisan itu: “Dengan membaca Anda dapat mengetahui banyak
hal yang amat perlu untuk keberhasilan Anda, sehingga Anda dapat membuat hidup
Anda lebih sejahtera. Maka, kembangkan kebiasaan membaca Anda, dan wujudkan
semua mimpi Anda.”
Menurut
tulisan itu, kebiasaan membaca yang reguler memberi manfaat dalam banyak hal,
seperti menguatkan mental, spiritual, dan sosialitas. Kebiasaan membaca yang
reguler membuat lebih percaya diri, serta meningkatkan dan memperluas
pengetahuan. Selain itu, sejumlah keuntungan dapat diperoleh dari
membaca, yakni:
(1)
memperkaya perbendaharaan kata; hal
itu karena sering kali ada banyak kata-kata baru dalam bacaan yang belum pernah
dijumpai, sehingga dengan membaca terus menerus semakin banyak kata-kata baru
yang diperoleh.
(2) menghilangkan stres, dan juga memberikan
kesegaran; membaca berfungsi sebagai obat bagi pikiran yang capek, dan
memelihara kesegaran jiwa
(3) memperoleh pembelajaran dan pengetahuan;
tidak ada kesempatan belajar yang lebih baik daripada melalui membaca, terutama
belajar dari rekaman pengalaman banyak orang lain sebelumnya
(4) membuat cerdas, mempertajam pikiran dan
membuat lebih percaya diri; karena kebiasaan membaca yang reguler maka
seseorang merasa menjadi pribadi yang lengkap, pikirannya terasa tetap segar
dan sejuk sepanjang hari.
Dalam
kaitannya dengan kegiatan menulis, sastrawan Taufik Ismail menegaskan bahwa dengan banyak membaca, seseorang
akan mampu menulis. Sebaliknya, karena sedikit membaca maka tidak berkembang
pula kemampuan untuk menulis. Maka ia sangat prihatin dengan rendahnya minat
membaca di kalangan pelajar sekarang ini.[4]
Di tempat
lain, Sri Handayani dalam situs
Pemda Pemerintah Kabupaten TAKALAR[5] yang mengutip Jordan E. Ayan dari bukunya yang berjudul ‘Bengkel Kreativitas’ mengatakan bahwa ‘membaca memiliki dampak positif bagi perkembangan kecerdasan, yaitu:
1) mempertinggi kecerdasan verbal/linguistik, karena dengan banyak membaca akan
memperkaya kosakata, 2) meningkatkan kecerdasan matematis-logis dengan
“memaksa” kita menalar, mengurutkan dengan teratur dan berpikir logis untuk dapat
mengikuti jalan cerita atau memecahkan suatu misteri, 3) mengembangkan
kecerdasan intrapersonal dengan mendesak kita merenungkan kehidupan dan
mempertimbangkan kembali keputusan akan cita-cita hidup, dan 4) membaca dapat
memicu imajinasi dengan mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya,
lengkap dengan segala kejadian, lokasi dan karakternya. Manfaat membaca buku
yang lain adalah membentuk karakter dan kepribadian.’
Hal-hal yang
dikutip dari situs www.ayushveda.com dan dari Sri Handayani di atas barangkali bukan
baru, melainkan sekedar menguatkan apa yang selama ini sudah dipahami dan
diyakini banyak orang. Dengan setiap kali mencermati dan mengutip hal-hal
tersebut maka para pihak yang berkepentingan akan semakin menyadari makna dari
rumusan-rumusan yang dikutipnya, menangkap substansi dari setiap rumusan itu,
dan kemudian semakin mampu menerjemahkan substansi itu ke dalam berbagai
rumusan alternatif yang lebih mudah dipahami. Maka para pustakawan pengelola
perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, serta para pendidik perlu terus
mengkampanyekan manfaat dari membaca tersebut melalui berbagai cara dan
kesempatan. Selain itu, tentunya juga perlu terus mengupayakan agar
perpustakaannya (umum atau sekolah) dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan
membaca para penggunanya, serta menumbuhkembangkan minat baca mereka.
Layanan perpustakaan untuk
menumbuhkan dan mengembangkan minat dan kebiasaan membaca
Untuk maksud
mengkampanyekan membaca dan menumbuhkembangkan minat baca itu, Sri Handayani menyarankan agar
perpustakaan ‘menambah koleksi-koleksi
buku yang ada dengan buku yang menarik minat masyarakat, melengkapi fasilitas
perpustakaan dan mewujudkan “pustakawan sahabat pelanggan”.’
Menambah
koleksi adalah program wajib yang harus dilakukan oleh perpustakaan. Selain
untuk terus mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni (IPTEKS), penambahan koleksi juga untuk mengupayakan agar para pengguna
tetap tertarik untuk mengunjungi perpustakaan karena tersedianya bahan-bahan
bacaan yang baru. Catatan penting yang harus selalu diingat adalah, bahwa
penambahan koleksi harus benar-benar dilakukan secara profesional, bukan
asal-asalan. Tanggung-jawab profesional pustakawan/pengelola perpustakaan dalam
mengembangkan koleksi harus selalu dikedepankan, antara lain dengan jalan
melakukan seleksi yang cermat atas bahan-bahan perpustakaan yang akan
ditambahkan.
Terkait
dengan penambahan koleksi tersebut, maka perpustakaan perlu pula
menyelenggarakan pameran atau display
atas buku-buku atau bahan-bahan yang baru ditambahkan kedalam koleksi. Hal ini
amat penting, karena ketersediaan bahan-bahan yang baru itu harus diberitahukan
kepada pengguna perpustakaan serta khalayak umum yang merupakan
pengguna-potensial perpustakaan. Pameran buku-buku baru di tempat yang mudah
terlihat oleh pengguna/warga masyarakat adalah salah satu cara pemberitahuan
yang cukup efektif. Akan lebih bermanfaat lagi apabila juga dibuat dan
disebarkan daftar tambahan koleksi kepada
para pengguna, terutama para pengguna potensial yang mungkin belum pernah
berkunjung ke perpustakaan.
Ketertarikan
pengguna untuk berkunjung ke perpustakaan dan tinggal berlama-lama di dalamnya
juga amat dipengaruhi oleh kondisi dan kelengkapan fasilitas, serta kenyamanan
suasana dalam ruangan perpustakaan. Dewasa ini banyak perpustakaan umum yang
telah menyulap ruangannya sedemikian, sehingga perpustakaan bukan hanya ruangan
dengan rak buku dan meja-kursi baca, melainkan juga ruangan dengan lantai
karpet bagi anak-anak untuk tiduran, atau ruangan dengan sofa dan kursi malas
untuk orang dewasa, ruangan dengan koleksi mainan anak-anak, ruangan dengan
proyektor film, dan berbagai ruangan lain dengan fasilitas pendingin yang
nyaman.
Khusus untuk
perpustakaan sekolah Sri Handayani menyarankan untuk mengambil contoh
pelaksanaan kegiatan di perpustakaan SMKN 1 Depok, yang melibatkan para
siswanya dalam kegiatan perpustakaan tersebut. Dengan cara ini, menurut Sri
Handayani, ‘para siswa dapat lebih
mengetahui cara kerja perpustakaan dan mempunyai rasa memiliki terhadap
perpustakaan, sehingga belajar di perpustakaan dirasakan cukup menyenangkan dan
mengasyikkan.’ Cara ini sekaligus juga dapat digunakan untuk mengembangkan
kedekatan antara petugas perpustakaan/pustakawan dengan para siswa atau
pengguna lainnya, sehingga semboyan ‘pustakawan
sahabat pelanggan’ itu benar-benar dapat diwujudkan. Keramahan, kesiagaan
dan ketulusan pustakawan/petugas perpustakaan dalam melayani pengguna merupakan
daya tarik tersedniri yang amat-sangat besar bagi pengguna untuk berkunjung ke
perpustakaan, dan dengan demikian juga akan semakin mengembangkan minat dan
kebiasaan membaca mereka.
SDM yang Cerdas, apa maksudnya?
Bahwa
penyelenggaraan perpustakaan di seluruh wilayah NKRI ini dimaksudkan terutama
untuk menunjang tercapainya tujuan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa,
kiranya hal itu sudah dimengerti oleh banyak pihak dan tidak terbantahkan lagi.
Itulah pula jiwa dan semangat yang melandasi dibuatnya Undang-Undang tentang Perpustakaan (UU RI Nomor 43/2007). Jika dikatakan bahwa layanan perpustakaan dan
minat baca harus berperan dalam menunjang terciptanya sumber daya manusia (SDM)
yang cerdas, maka tentunya harus dimengerti lebih dahulu SDM yang cerdas itu
seperti apa. Apa arti kecerdasan itu sendiri, dan bagaimana layanan
perpustakaan dapat menunjang peningkatan kecerdasan seseorang.
v kecerdasan intelektual dan
kecerdasan emosional
Pada
umumnya jika istilah ‘cerdas’ disebutkan, maka asosiasi kita langsung kepada
kemampuan otak atau intelektualitas. Selain itu, tampaknya juga masih ada yang
berpendapat bahwa seseorang yang cerdas itu memang dari sejak lahir sudah
ditakdirkan cerdas, atau cerdas karena keturunan dari orangtua atau leluhur
yang cerdas. Pendapat itu mungkin ada benarnya juga, karena setiap anak lahir
dengan tingkat kecerdasan tertentu. Namun yang jelas kecerdasan itu bersifat
dinamis, berkembang berkat berbagai pengaruh lingkungan.
Jennifer Grahan Kizer,[6]
juga mensinyalir bahwa pada umumnya orang mengasosiasikan istilah kecerdasan
dengan tingkatan intelektualitas yang tinggi, atau dalam bahasa teknisnya intellectual quotiens (IQ). IQ mengukur
kemampuan mental seperti pemecahan masalah, penalaran, pemikiran abstrak, dan
kemampuan memahami hal-hal baru. Dalam beberapa kasus, skor IQ anak memang
dapat dipakai untuk memprediksikan kompleksitas kognitif yang dapat
ditanganinya. Namun, menurut Kizer, angka IQ seseorang tidak menunjukkan
kecerdasan seluruhnya. Tes klasik IQ[7]
pada umumnya mengukur beberapa faktor kecerdasan, yakni penalaran logis,
keterampilan matematik, kemampuan bahasa, keterampilan yang terkait dengan
ruangan, pemerolehan pengetahuan, dan kemampuan memecahkan masalah.
Oleh
karena itu menurut Kizer, dalam dekade yang lalu, para pakar kesehatan mental
mulai memperhatikan faktor kecerdasan emosional - EQ (emotional
quotient), yang mengukur seberapa baik seseorang
mengelola emosinya dalam kaitan dengan orang lain. Menurut Kizer, EQ bahkan dapat lebih baik memprediksi keberhasilan seseorang di
masa depan.
Hsin-Yi
Cohen,[8]
yang mengutip pendapat Dr. Horward
Gardner, psikholog dari universitas Harvard, mengatakan bahwa kecerdasan manusia
terdiri dari berbagai aspek kecerdasan yang bukan hanya terbatas pada
intelektualitas. Kecerdasan manusia dapat dibedakan secara luas ke dalam kecerdasan
abstrak (abstract intelligence atau symbolic reasoning), kecerdasan praktis (practical intelligence), kecerdasan
emosional (emotional intelligence
atau self-awareness dan self-management),
kecerdasan estetis (aesthetic
intelligence atau rasa seni), kecerdasan kinesthetic (kinesthetic intelligence), dan kecerdasan sosial (social intelligence). Sebagaimana
dibahas di bawah, kecerdasan emosional adalah salah satu bentuk dari kecerdasan
sosial yang berperan sangat penting bagi pengembangan kecakapan hidup.
v Kecerdasan Multi Aspek
Fatchurr yang juga mengutip Dr Howard Gardner, menyatakan bahwa ‘kecerdasan tidak terpatri di tingkat
tertentu dan terbatas saat lahir.’[9]
Mengawali tulisannya, Fatchurr mengatakan bahwa ‘tidak semua anak berpotensi menjadi Einstein, Habibie atau personal
lain yang berIQ tinggi, tetapi bukan berarti anak kita tidak memiliki
kecerdasan.’ Adalah tugas orangtua, lanjut Fatchurr, memfasilitasi dan menghantar
perkembangkan unik tiap kecerdasan anak.
Menurut
hemat saya pernyataan Fatchurr itu tepat sekali. Kecerdasan anak memang berkembang
antara lain berkat fasilitasi yang diberikan oleh para orangtua, guru, atau
para pendidik dan kaum dewasa lainnya. Perkembangan kecerdasan melalui berbagai
cara ini dikenal dengan multiple
intelligences. Fatchurr yang menawarkan sejumlah tips untuk membina
kecerdasan anak, mengawalinya dengan menyebutkan pendapat Gardner, bahwa
terdapat 8 kategori kecerdasan yaitu kecerdasan : bahasa, logika,
visual-spasial, musik, diri, gerak, alam, dan sosial.
Menarik
sekali mencermati tips-tips yang ditawarkan Fatchurr, antara lain yang terkait
dengan pengembangan kecerdasan bahasa,
yakni dengan mengembangkan sikap Cinta buku. Dia menyarankan agar para
orangtua memperkenalkan ‘kegiatan membaca
sejak anak usia balita dengan mendongeng buku cerita, puisi, dan beragam bacaan
untuk anak. Saat usia sekolah ajak anak mulai membaca ensiklopedia, novel atau
komik edukatif untuk merangsang minat membaca.’ Menurut hemat saya, dari
rumusan ini terkandung pengertian bahwa sikap cinta buku harus dikembangkan
dengan terlebih dahulu mengenal buku dan isinya. Maka perkenalan dengan beragam
jenis buku perlu dilakukan oleh para orangtua, para guru, dan para orang dewasa
pada umumnya bagi anak-anak dan generasi muda sesuai dengan tingkatan usia
mereka. Dalam hal ini para orangtua dan orang-orang dewasa tentunya perlu
memiliki pemahaman akan psikhologi
membaca, agar dapat mempertimbangkan kesesuaian jenis bacaan dengan tingkat
perkembangan kejiwaan anak-anak.
Saya
menyimpulkan, bahwa Fatchurr adalah salah satu dari amat banyak orang yang
sependapat bahwa minat dan kebiasaan membaca merupakan salah satu faktor
penting dalam mengembangkan kecerdasan anak dan kecerdasan SDM pada umumnya.
Saya yakin pula, bahwa Fatchurr juga sependapat akan pentingnya peranan layanan
perpustakaan dalam menunjang tumbuh-kembangnya minat dan kebiasaan membaca di
tengah masyarakat.
v Kecerdasan
Sosial dan Kecerdasan Emosional
Menurut Norman D. Livergood,[10] kecerdasan sosial adalah kemampuan manusia untuk
mengerti apa yang sedang terjadi di dunia, dan kemampuan merespon terhadap
pemahamannya itu dengan cara personal dan sosial yang efektif. Livergood menegaskan bahwa kecerdasan sosial adalah suatu kualitas dalam
diri manusia yang memungkinkan dia memiliki kesadaran dan pemahaman dalam
artian yang paling luas, pemahaman yang memungkinkan hidup mereka berharga dan
membuat kehidupan masyarakatnya lebih baik semasa hidupnya dan bahkan sesudahnya.
Kecerdasan sosial adalah suatu kebijaksanaan, suatu model perilaku manusiawi
dan suatu cara dalam memandang kenyataan hidup.
Pada bagian lain Livergood mengatakan bahwa salah
satu kualitas yang menunjukkan adanya kecerdasan sosial seseorang adalah: Understanding the necessity of
life-long self-education, atau: mengerti pentingnya pendidikan mandiri sepanjang hayat. Pendidikan mandiri sepanjang hayat
tiada lain adalah usaha untuk terus belajar secara mandiri kendati sudah tidak
lagi duduk di bangku pendidikan. Saya berpendapat, dan saya kira semua orang
sependapat, belajar mandiri sepanjang hayat hanya dapat dilakukan melalui
kegiatan membaca. Karena kegiatan membaca dapat dilakukan di mana saja, kapan
saja, dan oleh siapa saja; tidak hanya dilakukan pada masa pendidikan formal
dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi sekalipun, yang pada dasarnya hanya
terbatas pada kurun waktu tertentu. Perpustakaan dan layanannya diselenggarakan
tidak lain untuk menunjang atau men-suplai kebutuhan banyak orang untuk membaca
dan belajar mandiri sepanjang hayat tersebut.
Sementara itu, menurut Yodhia Antariksa[11]
yang mengutip buku karya Karl Albrecht yang berjudul Social Intelligence : The New Science of Success yang telah
diindonesiakan dengan judul Cerdas Bergaul
: Kunci Sukses dalam Bisnis dan Masyarakat, terdapat lima elemen kunci yang
bisa mengasah kecerdasan sosial kita, yang menurut Albrecht dapat disingkat
menjadi kata SPACE. Elemen-elemen itu
adalah: Situational awareness
(kesadaran situasional, yakni kehendak untuk bisa memahami dan peka akan
kebutuhan serta hak orang lain), Presense
(atau kemampuan membawa diri, antara lain: etika penampilan, tutur kata dan
sapa yang dibentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan), Authenticity (autensitas, keaslian,
yakni perilaku yang mengesankan layak dipercaya, jujur, terbuka, dan tulus), Clarity (kejelasan, yakni kemampuan
untuk menyampaikan gagasan dan ide secara jelas sehingga diterima dengan baik
oleh orang lain), dan adalah Empathy
(empati, yakni kemampuan untuk mendengarkan, menerima dan memahami
pandangan dan gagasan orang lain).
Dari lima
elemen yang dijelaskan dengan baik oleh Albrecht melalui Yodhia Antariksa itu,
kiranya elemen Clarity sangat relevan dengan topik pembicaraan kita, yakni
minat baca. Seseorang kiranya hanya mampu memiliki gagasan dan ide yang baik,
brilian, dan menarik karena relevan dengan situasi dan kondisi kekinian, jika
ia banyak memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu mungkin diramu dari berbagai
sumber, termasuk pengalaman hidupnya, terutama dari berbagai bahan bacaan yang
pernah dibacanya. Dengan kata lain, berkat membaca, seseorang akan memiliki
kecerdasan sosial yang semakin tinggi.
Hsin-Yi Cohen yang telah dikutip sebelumnya, yang
secara khusus membahas mengenai kecerdasan sosial mengatakan bahwa orang yang
memiliki kecerdasan sosial tinggi sering disebut sebagai memiliki perilaku yang
mampu memfasilitasi pertumbuhan orang lain, dan membuat mereka merasa berharga,
dicintai, dihormati, dan diapresiasi. Orang yang demikian sepertinya memiliki
kepribadian magnetis yang mampu menarik banyak orang. Sebaliknya orang yang
rendah kecerdasan sosialnya sering dianggap sebagai pribadi beracun, yang
menyebabkan orang lain marah, merasa dilecehkan, frustrasi, atau merasa
dipersalahkan. Mereka yang memiliki kecerdasan sosial rendah demikian itu
sesungguhnya hanya karena mereka kurang memiliki kesadaran akan pengaruh
pribadinya bagi orang lain.
Sementara itu, kecerdasan emosional
adalah suatu bentuk dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan untuk
memantau emosi diri sendiri dan emosi orang lain, serta membeda-bedakan
emosi-emosi itu. Kemampuan tersebut akan dapat menjadi pemandu bagi pikiran dan
tindakannya.Menurut Nuraini dari Lembaga Bina Anak dan Pengembangan
Masyarakat FEDUs yang mengutip psikholog Peter Salovey dan John Mayer kecerdasan emosional itu merupakan ‘kualitas-kualitas emosional yang sangat penting
bagi keberhasilan.’ Kualitas-kualitas itu antara lain: ‘kepedulian, kemampuan mengungkapkan dan
memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, penyesuaian diri,
kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan,
keramahan, dan sikap hormat.’[12] Hal
penting yang dicatat oleh Nuraini, bahwa kecerdasan emosional tidak begitu
dipengaruhi oleh faktor keturunan. Dengan demikian kecerdasan emosional yang
amat penting peranannya baik di dalam proses belajar di sekolah maupun di
masyarakat, dapat dibentuk dan dikembangkan.
Menurut hemat saya, salah satu cara
untuk menanamkan kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional adalah melalui
bahan bacaan. Dewasa ini semakin banyak buku-buku yang dimaksudkan sebagai
bahan bacaan untuk membentuk dan mengembangkan kecerdasan emosional dan
kecerdasan sosial pada umumnya. Buku-buku ceritera rakyat, legenda, cerita
kepahlawan, dan biografi orang-orang ternama merupakan bahan bacaan yang dapat
menunjang upaya penumbuh-kembangan kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional
bagi para pembacanya. Para pengelola perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah
hendaknya juga selalu mengembangkan koleksinya dengan jenis-jenis bahan bacaan
seperti itu.
SDM
Berkarakter
Jika dikatakan bahwa layanan
perpustakaan dan minat baca harus berperan dalam menunjang terciptanya sumber
daya manusia (SDM) yang cerdas dan berkarakter, maka tentunya harus dimengerti
lebih dahulu SDM yang cerdas dan berkarakter itu seperti apa. SDM yang cerdas
telah dibahas di atas, persoalan berikutnya adalah, SDM yang berkarakter itu
seperti apa? Apa arti istilah karakter itu sendiri dan apa peranan minat baca
dan layanan perpustakaan dalam menunjang pembentukan SDM yang berkarakter?
Pentingnya
karakter seseorang dikemukakan antara lain oleh Mahatma Gandhi dalam kata-kata mutiara: “Kualitas karakter adalah
satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa.” Paling tidak sesudah peringatan Hari
Pendidikan Nasional 2 Mei 2011 dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2011, makin
banyak pemimpin di negara ini yang berbicara tentang pentingnya karakter. Tidak
kurang dari Presiden RI sendiri yang mengatakan pentingnya karakter bangsa
dibangun dan dikembangkan melalui pendidikan karakter. Dari karakter manusia
warga negara itulah terbangun karakter bangsa, kata Presiden dalam sambutannya
pada Peringatan Hardiknas dan Harkitnas 2011 dengan tema “Pembangunan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Nasional.” Untuk
menjadi bangsa yang besar, menurut Presiden, rakyat Indonesia harus memiliki
minimal lima hal, yakni moralitas yang baik, pengetahuan, perilaku
yang baik, beriman, beradab dan anti kekerasan.[13]
Pertanyaannya
adalah apakah karakter itu? Tentunya banyak definisi dapat dikemukakan mengenai
istilah karakter ini yang tersebar di berbagai literatur. Namun rasanya
penelusuran literatur itu tidak harus dilakukan seluruhnya, karena tampaknya
istilah karakter sudah menjadi pengertian umum.
Jika
dilihat dalam kamus umum, menurut Annie Zaidi,[14]
biasanya dikatakan bahwa karakter adalah suatu atribut atau kualitas yang
mencirikan seseorang sehingga ia terbeda dari orang lain. Hal ini
berarti bahwa ciri seseorang dirumuskan berdasarkan suatu rangkaian kebiasaan,
kualitas, atau sikap tertentu yang kemudian menjadi dasar bagi penentuan
karakter seseorang. Istilah karakter dapat diasosiasikan dengan hal-hal yang
positif atau yang negatif. Jika seseorang dikatakan mempunyai karakter, atau
berkarakter, menurut Annie Zaidi, itu berarti dia memiliki karakter positif,
artinya secara etis dan moral dia unggul dan dapat dipercaya. Setiap atribut
atau kualitas seseorang merupakan komponen yang membangun karakternya. Sehingga
apabila seseorang dikatakan sebagai berkarakter, lanjut Annie Zaidi, hal itu
didasarkan atas pertimbangan terhadap semua aspek kepribadian, termasuk
penampilan fisiknya, kebiasaan sosialnya, reaksi-reaksi psikhologisnya, dan
pemahaman orang lain atas keutamaan dan kekuatan orang itu. Persepsi orang lain
atas karakter seseorang itulah yang memberikan dia suatu reputasi, entah yang
bersifat positif atau negatif.
Melalui
tulisan Annie Zaidi itu kiranya sudah dapat dimengerti bahwa karakter adalah
suatu bentuk kualitas kepribadian yang terbangun dari berbagai komponen
kualitas yang secara unik dimiliki atau melekat pada pribadi seseorang. Dengan
karakter itulah maka seseorang terbeda (distink) dari orang lain. Catatan
penting yang harus dipegang adalah, bahwa sebutan berkarakter biasanya
diterapkan kepada mereka yang memiliki keunggulan positif. Orang-orang dengan
perangai dan perilaku negatif tidak pernah akan disebut sebagai memiliki
karakter. Juga jarang disebut sebagai berkarakter-negatif.
Pendidikan Karakter
Seperti
halnya kecerdasan, khususnya kecerdasan sosial dan emosional, berkembang berkat
pengaruh lingkungan (seperti pendidikan, pergaulan yang baik, dsb), demikian
pula halnya dengan karakter, terutama yang terkait dengan atribut-atribut
kepribadian. Oleh karena itu maka peranan faktor eksternal sangat penting dalam
pembentukan dan pengembangan karakter. Itulah sebabnya maka dalam rangka
membangun karakter bangsa, dewasa ini pemerintah menggalakkan pendidikan
karakter bagi seluruh komponen bangsa. Pendidikan karakter dipandang sebagai
tantangan global. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdiknas, Suyanto,
karakter dipandang sebagai suatu soft knowlede
atau pengetahuan halus yang meliputi sikap sopan-santun, kemampuan
berkomunikasi, kejujuran, disiplin dan toleransi. Seseorang hanya dapat
bertahan hidup dalam percaturan global, menurut Suyanto, jika ia memiliki soft
knowledge yang memadai, bukan hanya kepintaran. Kepintaran hanya berkontribusi
20%, sedangkan soft knowledge 80%.[15]
Tujuan
dan sasaran dari pendidikan karakter antara lain agar anak-didik memiliki
prinsip hidup yang kuat, kuat mental dan kuat pendirian. Hal ini memungkinkan
mereka mampu melawan berbagai godaan, termasuk brainwashing (cuci otak) negatif yang baru-baru ini mencuat.[16]
Orang yang memiliki karakter yang kuat tidak akan mudah menjadi korban
pencucian otak. Sebaliknya pribadi yang lemah karakter, yakni mereka yang dalam
proses mencari jati diri, mengalami tekanan fisik dan mental, psikologis
sombong (percaya dirinya berlebihan tanpa didukung dengan pengetahuan yang luas
dan mendasar), amat rentan brainwashing.
Namun pribadi yang demikian itu juga dapat dikembangkan jika mendapat
brainwashing yang positif, yang diarahkan untuk menanamkan prinsip dan
keyakinan yang kuat akan sesuatu yang lebih baik, misalnya dalam rangka menyembuhkan
pecandu narkoba, memupuk dan meningkatkan rasa nasionalisme, dan sebagainya.
Pentingnya
pendidikan karakter bukan hanya disadari oleh bangsa dan pemerintah RI, tapi
nampaknya juga oleh banyak pihak dalam tataran global. Di Amerika Serikat pendidikan
karakter bahkan sudah ditekankan sejak abad 17 berkat pengaruh John Locke dan
John Dewey. Namun sejak tahun 1930-an, menurut W. Huitt,[17]
perhatian pada pendidikan karakter itu bergeser. Pendidikan moral, yakni
pengembangan karakter yang baik dan penghargaan-diri (self-respect), hanya menempati urutan prioritas ketiga sebagai
tujuan pendidikan umum, di bawah pengembangan keterampilan membaca, menulis,
berbicara, dan mendengar pada urutan pertama, dan pengembangan rasa bangga
dalam pekerjaan dan rasa harga-diri pada urutan kedua.
Pada akhir
dasawarsa 1980-an, menurut Huitt, ada perubahan pandangan yang lebih
menyeimbangkan pentingnya pendidikan karakter dan pendidikan kompetensi
akademik. Dua hal tersebut dipandang bukan sebagai hal yang terpisah satu sama
lain, melainkan hal yang saling melengkapi. Beberapa penelitian yang dirangkum
oleh Huitt memberikan kesimpulan bahwa siswa yang mempunyai karakter yang baik
lebih berhasil pula dalam mencapai kompetensi akademik. Siswa yang disiplin
atau lebih religius, bekerja keras, atau yang belajar secara lebih bermutu
memperoleh skor yang lebih tinggi dalam tes hasil belajar. Alhasil, pada 1987, the National School Boards
Association mengusulkan kepada the United States Department of Education suatu
proyek yang diberi nama, "Building
Character in the Public Schools." Proyek yang melibatkan lebih dari
15.000 sekolah ini dimaksudkan untuk memperbesar program pembangunan karakter
pada sekolah-sekolah.
Untuk
menunjang gerakan pembangunan dan pendidikan karakter tersebut suatu lembaga
pengembangan media pembelajaran di San Fransisco AS telah mengembangkan suatu
pedoman yang diberi nama Teaching Guide: Discussion Questions, Writing Assignments,
and Student Activities for Character Education and Life Skills. Topik-topik dalam pedoman pengajaran
karakter tersebut disusun sebagai semacam silabus untuk pendidikan dasar,
menengah, dan menengah atas, yang dikembangkan berdasarkan tingkatan-tingkatan
usia anak-didik.[18]
Menurut hemat saya, amat bermanfaat jika para pendidik dan pustakawan /
pengelola perpustakaan (umum, sekolah) memperhatikan secara cermat topik-topik
yang disarankan dalam silabus tersebut (terlampir). Hal itu karena topik-topik
yang disusun berdasarkan usia anak-didik itu dapat digunakan sebagai pedoman
dalam menyediakan bahan bacaan yang sesuai.
Perpustakaan
dan Pembangunan Karakter
Seperti halnya perpustakaan amat penting peranannya dalam
pendidikan pada umumnya, maka tentu saja perpustakaan juga amat penting
peranannya dalam pendidikan karakter. Hal ini, antara lain, dikuatkan oleh
rekomendasi dari suatu seminar, yakni Seminar tentang Menanamkan Minat Baca (Seminar on Inculcating the Reading Habits),
yang diselenggarakan oleh Pakistan Press Foundation (PPF) di Karachi tanggal 20 Juni 2003 merekomendasikan bahwa
perpustakaan memainkan peranan yang sangat menentukan dalam pembangunan
karakter suatu bangsa manapun, terutama bagi generasi muda mereka. Hal itu
karena, menurut Seminar itu, tatkala mengenangkan kegemilangan dan kehebatan
masa lalu, maka peranan buku-buku tidak pernah dapat diremehkan. Oleh karena
itu, lanjut rekomendasi seminar itu, pendekatan yang integratif dan yang
disepakati bersama diperlukan oleh pemerintah untuk mempromosikan kebiasaan
membaca di kalangan masyarakat melalui
promosi perpustakaan untuk minimsl 5 tahun, agar pada akhirnya membaca menjadi kebiasaan dalam masyarakat.[19]
Rekomendasi seminar di
Pakistan tersebut seharusnya juga menjadi perhatian bagi banyak pemimpin
negara, termasuk RI. Sebagaimana disebut pada awal tulisan ini, salah satu cara
untuk melaksanakan pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa adalah dengan mengembangkan minat baca masyarakat. Minat baca ini harus
dikembangkan sehingga menjadi kegemaran membaca, dan karena itu berkembang pula
kegemaran mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan. Hal ini telah diamanatkan
dalam Undang-Undang
Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Dalam UndangUndang
ini, bab XIII pasal 48-5 1, diatur secara khusus Pembudayaan Kegemaran Membaca.
Selain itu, pada pasal-pasal lain juga
ditegaskan mengenai kewajiban pemerintah (pusat) dan daerah untuk menggalakkan promosi gemar membaca
dan gemar memanfaatkan perpustakaan (pasal 7 ayat (1) e, dan pasal 8
huruf d), serta tugas Perpustakaan Nasional untuk melakukan promosi perpustakaan dan gemar membaca dalam
rangka mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat (pasal 21 ayat (3) huruf c). Pada pasal 51 ayat (6)
ditegaskan bahwa Pemerintah dan
Pemerintah Daerah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhasil melakukan
gerakan pembudayaan gemar membaca.[20]
Misi
dari pembudayaan kegemaran membaca ini mencakup baik untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa maupun untuk membangun karakter bangsa agar menjadi bangsa
yang besar dan kuat sebagaimana diharapkan bersama.
Strategi
Pengembangan Minat Baca
Mengakhiri
tulisan ini, perlu secara khusus disampaikan beberapa hal terkait dengan strategi
pengembangan minat baca dalam perpustakaan yang perlu dirancang dan
dilaksanakan. Untuk itu beberapa kesimpulan dari makalah tentang program
promosi kebiasaan baca di ASEAN berikut ini mungkin dapat dipertimbangkan: [21]
1. Program yang
berbasis pada buku, meliputi:
·
Penyediaan buku bagi masyarakat, antara
lain dengan membuat daftar bacaan yang diedarkan kepada masyarakat
·
Program membaca, meliputi antara lain
perkemahan membaca, lomba membaca, bedah buku (menceriterakan buku), membaca
keras bagi anak-anak, puisi kreatif (dibaca keras, dibaca berulangkali,
dibawakan secara sederhana dan menarik), penyediaan buku-buku bergambar
termasuk novel, dan penyelenggaraan jam berceritera (story hours).
·
Program pentas, meliputi kegiatan drama
yang didasarkan pada suatu ceritera dalam buku, pementasan wayang atau boneka
dengan lakon berdasarkan ceritera dari suatu buku
·
Program pembuatan hiasan/karya seni yang
didasarkan pada ceritera atau kenyataan sejarah yang terdapat dalam buku
·
Program kompetisi, seperti cerdas-cermat
berdasarkan buku bacaan
2. Program membawa buku
kepada masyarakat umum, yang meliputi pembuatan brosur-brosur yang mudah
dibaca, hingga pelayanan perpustakaan keliling
3. Program promosi
minat baca dengan bahan-bahan yang berbasis terbantu komputer, seperti CD, VCD,
dan sebagainya.
Dalam
lingkup perpustakaan sekolah kiranya baik digali kembali ide untuk
menyelenggarakan jam perpustakaan di sekolah. Yang dimaksud jam perpustakaan
adalah suatu jam pelajaran yang secara khusus digunakan untuk melakukan
aktivitas yang berhubungan dengan pengenalan dan pemanfaatan sumber daya dan
layanan perpustakaan. Dua hal penting dalam materi jam perpustakaan, yakni:
1. Learning to read
(belajar membaca), dan
2. Reading to learn
(membaca untuk belajar.
Dalam
program belajar membaca, disajikan beberapa tahapan pembelajaran, antara lain
belajar mengenali huruf, dan belajar mengenali urutan abjad. Hal itu
sebagaimana diajarkan atau dilatihkan pada anak-anak yang belum bisa membaca,
yang harus dilakukan oleh pendidik antara lain dengan mengeja, merangkai huruf,
dan membaca keras. Tentu amat penting dilaksanakan suatu proses pembelajaran
membaca yang menarik dan mudah, sehingga mendorong anak-didik untuk membaca
sendiri, bukan dibacakan.
Dalam
program membaca untuk belajar, disajikan antara lain pengenalan mengenai buku
dan bagian-bagiannya, pengenalan mengenai jenis-jenis buku/bahan bacaan,
pengenalan cara membaca yang baik, pengenalan mengenai cara membuat rangkuman
atau singkatan isi buku yang dapat diawali dengan latihan pembuatan pertanyaan
tentang isi buku dan menceriterakan kembali isi bacaan, latihan mencari
informasi melalui bahan-bahan referensi, dan latihan membuat tulisan atau
karangan berdasarkan isi buku termasuk cara-cara mengutip serta cara-cara
membuat daftar bacaan (bibliografi). Praksis yang sudah sering dilaksanakan
seperti lomba minat baca tentu perlu terus dikembangkan dan dimodifikasi sesuai
dengan keadaan sekolah. Lomba mencari informasi dan lomba menulis juga dapat
sangat menunjang upaya menumbuh-kembangkan minat dan kebiasaan membaca.
Demikian beberapa hal
yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat dam selamat melaksanakan tugas
mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter bangsa.
Jayapura, 15 Juni 2011
A.C. Sungkana Hadi, sungkanah@yahoo.com
Catatan:
[6]Jennifer Graham Kizer,
2011. “IQ & EQ:
Understanding Intellectual Quotient & Emotional Quotient: Managing
emotions and relating to others may be just as important as IQ score to a
child's future success.”
Diunduh dari: http://www.parents.com/baby/development/intellectual/iq--eq-understanding-intellectual-quotient--emotional-quotient/. Diakses pada tanggal 7 Juni 2011
[21]Somsong Sangkaeo, 1999. “Reading habit promotion in ASEAN
libraries.” Effective
Methods and some successful programs for Reading Habit Promotion in ASEAN
Libraries. Diturunkan dari: http://www.ifla.org/IV/ifla65/papers/091-114e.htm
18-11-2008.
[1]
Disampaikan pada Forum Pemasyarakatan Minat Baca dan Perpustakaan Badan
Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua Tahun 2011, Jayapura, 16 Juni 2011
[2]
Pustakawan Utama Universitas Cenderawasih
[3]Diunduh dari : http://www.ayushveda.com/magazine/advantages-of-reading/
pada tanggal 11 Juni 2011
[4]Diunduh dari: http://edukasi.kompas.com/read/2009/07/11/2105345/Taufik.Ismail:.Sedih.Lihat.Minat.Baca.Anak.Sekarang. Diakses pada tanggal 20 Mei 2011
[5]Sri
Handayani, 2008. “Menumbuhkan Budaya Gemar Membaca Pasca Maupun Tanpa Gempa.” Diunduh
dari: http://www.takalarkab.go.id/cetak.php?id=56. Diakses pada tanggal 25 Mei 2011
[6]Jennifer Graham Kizer,
2011. “IQ & EQ:
Understanding Intellectual Quotient & Emotional Quotient: Managing
emotions and relating to others may be just as important as IQ score to a
child's future success.”
Diunduh dari: http://www.parents.com/baby/development/intellectual/iq--eq-understanding-intellectual-quotient--emotional-quotient/. Diakses pada tanggal 7 Juni 2011
[7]Queendom: the
land ot test. “Classical IQ Test.” Diunduh dari: http://www.queendom.com/tests/access_page/index.htm?idRegTest=1127. Diakses pada
tanggal 20 Mei 2011
[8]Hsin-Yi Cohen, 2010. “What is
Social Intelligence?” Diunduh dari: http://www.aboutintelligence.co.uk/social-intelligence.html. Diakses tanggal 7 Juni 2011
[9]Fatchurr, 2011. “DELAPAN KECERDASAN ANAK.” Diunduh dari: http://fatchurr.blogdetik.com/2011/05/06/delapan-kecerdasan-anak/. Diakses tanggal
20 Mei 2011
[10]Norman
D. Livergood, “Social Intelligence: A New Definition of Human Intelligence.” Diunduh
dari: http://www.hermes-press.com/socint4.htm
[11]Yodhia Antariksa, 2009. “Lima
Dimensi Kunci dalam Kecerdasan Sosial.” Diunduh dari: http://strategimanajemen.net/2009/03/02/merajut-kecerdasan-sosial/
[12]Nuraini, Lembaga
Bina Anak dan Pengembangan Masyarakat FEDUs. ‘Kecerdasan emosional.’ Diunduh
dari: www.fedus.org
[13]Diunduh dari: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/62659/president-reminds-of-importance-of-character-building-in-education, pada tanggal 8 Juni 2011
[14]Annie Zaidi, 2004. “What is character education?“ Diunduh
dari: http://www.indianchild.com/character/character_
education.htm pada tanggal 8 Juni
2011
[15]Syarief Obaidillah, 2011. “Pendidikan Karakter Tantangan
Global.” Media
Indonesia 12 Mei 2011, p 16. Diunduh dari: http://bectrustfund.files.wordpress.com/2011/05/media-indonesia-p161.jpg
pada tanggal 8 Juni 2011.
[16]
“Liku-liku cuci otak.” Cenderawasih Pos,
tanggal 13 Mei 2011, hal 6.
[17]Huitt, W., 2004. “Moral and
character development.” Educational Psychology Interactive. Valdosta,
GA: Valdosta State University. Diunduh dari: http://www.edpsycinteractive.org/morchr/morchr.html pada tanggal 8 Juni 2011.
[20]Bdk.
Undang-Undang Perpustakaan Dan
Promosi Minat Baca: (Refleksi pribadi A.C. Sungkana Hadii setelah Setahun Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar