Minggu, 01 Januari 2012


PERANAN MINAT BACA DAN LAYANAN PERPUSTAKAAN
DALAM MENUNJANG TERCIPTANYA SDM PAPUA YANG CERDAS
DAN BERKARAKTER[1]

Refleksi A.C. Sungkana Hadi[2]

Pembicaraan mengenai minat baca atau budaya baca rasanya sudah begitu sering dilakukan, entah melalui artikel atau tulisan dalam media cetak, tayangan dalam media elektronik, maupun pembahasan dalam berbagai seminar atau lokakarya. Para pembicara atau penulis mencoba membahas atau menyoroti topik yang satu itu dari berbagai aspek, dengan harapan agar dapat semakin jelas dipetakan kondisi, permasalahan, dan kaji tindak yang sudah, sedang, atau akan dilakukan.
Harus dikaui, bahwa pembicaraan mengenai minat baca atau budaya baca memang masih tetap penting, dan bukan sesuatu yang dicari-cari. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5 bahkan menegaskan bahwa: Salah satu cara penyelenggaraan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Dengan penegasan itu maka amat jelas dinyatakan pentingnya membaca bagi proses pendidikan, termasuk pendidikan bagi warga masyarakat yang tidak lagi bersekolah. Persoalannya adalah bagaimana budaya membaca itu dikembangkan dan bagaimana membuat warga masyarakat menyadari pentingnya membaca itu bagi kehidupan mereka.
Dengan istilah ‘budaya’ pada umumnya diartikan sebagai suatu sistem perilaku atau kebiasaan yang dihayati dan diinternalisasi, sehingga berpengaruh pada setiap bentuk pernyataan diri. Misalnya, budaya tertib berlalu-lintas, artinya perilaku dan kebiasaan berlalu lintas secara tertib, taat pada peraturan, yang secara otomatis dihayati, bukan karena dipaksakan atau diawasi oleh polisi lalu lintas. Dengan kata lain, berlalu-lintas secara tertib sudah membudaya dalam diri yang bersangkutan. Pertanyaannya, apakah membaca sudah merupakan perilaku atau kegiatan dan kebiasaan yang dihayati oleh setiap warga masyarakat.

Minat dan Kebiasaan Membaca
Jika dirangkumkan pengertian dari beberapa literatur, minat adalah gejala psikologis yang menunjukkan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek karena adanya perasaan senang atau ketertarikan kepada obyek tersebut. Minat juga merupakan kekuatan yang mendorong seseorang menaruh perhatian pada hal-hal tertentu (orang, situasi, acara, aktivitas, dan lain-lain), dan kemudian melakukan tindakan atau aksi tertentu baik fisis maupun psikhologis terhadap hal tersebut.
Berdasarkan pengertian yang umum ini, maka minat baca atau lebih tepatnya minat membaca, adalah suatu dorongan psikhologis yang mengarahkan seseorang untuk membaca. Dorongan ini pada awalnya mungkin hanya karena tertarik melihat gambar-gambar atau ilustrasi dalam suatu bacaan, dan setelah itu kemudian tertarik untuk mengetahui hal-ihwal tentang gambar atau ilustrasi itu yang tersaji dalam bacaan. Jika dari melihat gambar dan membaca uraian tentangnya kemudian timbul rasa senang, maka lain kali akan timbul dorongan untuk mencari gambar-gambar dan bacaan lainnya dan kemudian membacanya. Jika hal ini dipupuk terus, dan tersedia fasilitas serta sarana untuk itu, maka minat membaca itu akan menghasilkan kebiasaan membaca, dan kebiasaan membaca akan melahirkan budaya membaca.
Dengan demikian jelas, bahwa timbulnya minat membaca dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal berupa dorongan kejiwaan, dan faktor eksternal berupa obyek yang menarik dalam hal ini bahan bacaan. Selain itu, faktor eksternal juga berupa bimbingan, penyadaran, dan terutama teladan yang diberikan oleh orang lain (terutama orangtua/orang dewasa, dan keluarga) yang menunjukkan bahwa membaca itu ternyata menyenangkan, menimbulkan kegembiraan (misalnya tertawa berkepanjangan setelah membaca sesuatu yang lucu), meningkatkan kepandaian (misalnya mendapatkan hasil belajar yang tinggi), memperkaya informasi dan memperluas pengetahuan (misalnya: bisa menjawab semua pertanyaan atau memberikan informasi/penjelasan setelah membaca bahan-bahan referensi).
Persoalannya adalah bagaimana ditimbulkan ketertarikan akan bahan bacaan itu? Konkritnya, bagaimana diupayakan agar anak-anak, siswa, dan/atau warga masyarakat pada umumnya memiliki minat membaca, dan siapa yang bertanggungjawab mengupayakannya?
Manfaat Membaca
Satu hal harus disadari bersama – dan disadarkan kepada anak-anak, para siswa, dan warga masyarakat – bahwa membaca bukan hanya merupakan kewajiban bagi mereka yang masih duduk di bangku pendidikan. Membaca bukan hanya untuk mengerti pelajaran dan memperoleh pengetahuan dari buku-buku pelajaran sehingga nantinya bisa menjawab soal-soal ulangan atau ujian. Membaca diperlukan untuk memperoleh informasi atau pengetahuan yang dibutuhkan untuk memperluas cakrawala dan kerangka berpikir yang amat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai masalah dan tantangan dalam kehidupan.
Membaca bukan saja menambah pengetahuan Anda, tetapi juga membuat Anda cakap hidup di dunia ini dengan mudah.” Demikian suatu kesimpulan dari tulisan pendek berjudul Advantages of Reading[3] yang ditayangkan pada tanggal 26 Juni 2008 dalam suatu situs. Lanjut tulisan itu: “Dengan membaca Anda dapat mengetahui banyak hal yang amat perlu untuk keberhasilan Anda, sehingga Anda dapat membuat hidup Anda lebih sejahtera. Maka, kembangkan kebiasaan membaca Anda, dan wujudkan semua mimpi Anda.
Menurut tulisan itu, kebiasaan membaca yang reguler memberi manfaat dalam banyak hal, seperti menguatkan mental, spiritual, dan sosialitas. Kebiasaan membaca yang reguler membuat lebih percaya diri, serta meningkatkan dan memperluas pengetahuan. Selain itu,   sejumlah keuntungan dapat diperoleh dari membaca, yakni:
(1)   memperkaya perbendaharaan kata; hal itu karena sering kali ada banyak kata-kata baru dalam bacaan yang belum pernah dijumpai, sehingga dengan membaca terus menerus semakin banyak kata-kata baru yang diperoleh.
(2)   menghilangkan stres, dan juga memberikan kesegaran; membaca berfungsi sebagai obat bagi pikiran yang capek, dan memelihara kesegaran jiwa
(3)   memperoleh pembelajaran dan pengetahuan; tidak ada kesempatan belajar yang lebih baik daripada melalui membaca, terutama belajar dari rekaman pengalaman banyak orang lain sebelumnya
(4)   membuat cerdas, mempertajam pikiran dan membuat lebih percaya diri; karena kebiasaan membaca yang reguler maka seseorang merasa menjadi pribadi yang lengkap, pikirannya terasa tetap segar dan sejuk sepanjang hari.
Dalam kaitannya dengan kegiatan menulis, sastrawan Taufik Ismail menegaskan bahwa dengan banyak membaca, seseorang akan mampu menulis. Sebaliknya, karena sedikit membaca maka tidak berkembang pula kemampuan untuk menulis. Maka ia sangat prihatin dengan rendahnya minat membaca di kalangan pelajar sekarang ini.[4]
Di tempat lain, Sri Handayani dalam situs Pemda Pemerintah Kabupaten TAKALAR[5]   yang mengutip Jordan E. Ayan dari bukunya yang berjudul ‘Bengkel Kreativitas’ mengatakan bahwa ‘membaca memiliki dampak positif bagi perkembangan kecerdasan, yaitu: 1) mempertinggi kecerdasan verbal/linguistik, karena dengan banyak membaca akan memperkaya kosakata, 2) meningkatkan kecerdasan matematis-logis dengan “memaksa” kita menalar, mengurutkan dengan teratur dan berpikir logis untuk dapat mengikuti jalan cerita atau memecahkan suatu misteri, 3) mengembangkan kecerdasan intrapersonal dengan mendesak kita merenungkan kehidupan dan mempertimbangkan kembali keputusan akan cita-cita hidup, dan 4) membaca dapat memicu imajinasi dengan mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi dan karakternya. Manfaat membaca buku yang lain adalah membentuk karakter dan kepribadian.’
Hal-hal yang dikutip dari situs www.ayushveda.com dan dari Sri Handayani di atas barangkali bukan baru, melainkan sekedar menguatkan apa yang selama ini sudah dipahami dan diyakini banyak orang. Dengan setiap kali mencermati dan mengutip hal-hal tersebut maka para pihak yang berkepentingan akan semakin menyadari makna dari rumusan-rumusan yang dikutipnya, menangkap substansi dari setiap rumusan itu, dan kemudian semakin mampu menerjemahkan substansi itu ke dalam berbagai rumusan alternatif yang lebih mudah dipahami. Maka para pustakawan pengelola perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, serta para pendidik perlu terus mengkampanyekan manfaat dari membaca tersebut melalui berbagai cara dan kesempatan. Selain itu, tentunya juga perlu terus mengupayakan agar perpustakaannya (umum atau sekolah) dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan membaca para penggunanya, serta menumbuhkembangkan minat baca mereka.
Layanan perpustakaan untuk menumbuhkan dan mengembangkan minat dan kebiasaan membaca
Untuk maksud mengkampanyekan membaca dan menumbuhkembangkan minat baca itu, Sri Handayani menyarankan agar perpustakaan ‘menambah koleksi-koleksi buku yang ada dengan buku yang menarik minat masyarakat, melengkapi fasilitas perpustakaan dan mewujudkan “pustakawan sahabat pelanggan”.’
Menambah koleksi adalah program wajib yang harus dilakukan oleh perpustakaan. Selain untuk terus mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS), penambahan koleksi juga untuk mengupayakan agar para pengguna tetap tertarik untuk mengunjungi perpustakaan karena tersedianya bahan-bahan bacaan yang baru. Catatan penting yang harus selalu diingat adalah, bahwa penambahan koleksi harus benar-benar dilakukan secara profesional, bukan asal-asalan. Tanggung-jawab profesional pustakawan/pengelola perpustakaan dalam mengembangkan koleksi harus selalu dikedepankan, antara lain dengan jalan melakukan seleksi yang cermat atas bahan-bahan perpustakaan yang akan ditambahkan.
Terkait dengan penambahan koleksi tersebut, maka perpustakaan perlu pula menyelenggarakan pameran atau display atas buku-buku atau bahan-bahan yang baru ditambahkan kedalam koleksi. Hal ini amat penting, karena ketersediaan bahan-bahan yang baru itu harus diberitahukan kepada pengguna perpustakaan serta khalayak umum yang merupakan pengguna-potensial perpustakaan. Pameran buku-buku baru di tempat yang mudah terlihat oleh pengguna/warga masyarakat adalah salah satu cara pemberitahuan yang cukup efektif. Akan lebih bermanfaat lagi apabila juga dibuat dan disebarkan daftar tambahan koleksi kepada para pengguna, terutama para pengguna potensial yang mungkin belum pernah berkunjung ke perpustakaan.
Ketertarikan pengguna untuk berkunjung ke perpustakaan dan tinggal berlama-lama di dalamnya juga amat dipengaruhi oleh kondisi dan kelengkapan fasilitas, serta kenyamanan suasana dalam ruangan perpustakaan. Dewasa ini banyak perpustakaan umum yang telah menyulap ruangannya sedemikian, sehingga perpustakaan bukan hanya ruangan dengan rak buku dan meja-kursi baca, melainkan juga ruangan dengan lantai karpet bagi anak-anak untuk tiduran, atau ruangan dengan sofa dan kursi malas untuk orang dewasa, ruangan dengan koleksi mainan anak-anak, ruangan dengan proyektor film, dan berbagai ruangan lain dengan fasilitas pendingin yang nyaman.
Khusus untuk perpustakaan sekolah Sri Handayani menyarankan untuk mengambil contoh pelaksanaan kegiatan di perpustakaan SMKN 1 Depok, yang melibatkan para siswanya dalam kegiatan perpustakaan tersebut. Dengan cara ini, menurut Sri Handayani, ‘para siswa dapat lebih mengetahui cara kerja perpustakaan dan mempunyai rasa memiliki terhadap perpustakaan, sehingga belajar di perpustakaan dirasakan cukup menyenangkan dan mengasyikkan.’ Cara ini sekaligus juga dapat digunakan untuk mengembangkan kedekatan antara petugas perpustakaan/pustakawan dengan para siswa atau pengguna lainnya, sehingga semboyan ‘pustakawan sahabat pelanggan’ itu benar-benar dapat diwujudkan. Keramahan, kesiagaan dan ketulusan pustakawan/petugas perpustakaan dalam melayani pengguna merupakan daya tarik tersedniri yang amat-sangat besar bagi pengguna untuk berkunjung ke perpustakaan, dan dengan demikian juga akan semakin mengembangkan minat dan kebiasaan membaca mereka.

SDM yang Cerdas, apa maksudnya?
Bahwa penyelenggaraan perpustakaan di seluruh wilayah NKRI ini dimaksudkan terutama untuk menunjang tercapainya tujuan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa, kiranya hal itu sudah dimengerti oleh banyak pihak dan tidak terbantahkan lagi. Itulah pula jiwa dan semangat yang melandasi dibuatnya Undang-Undang tentang Perpustakaan (UU RI  Nomor 43/2007).  Jika dikatakan bahwa layanan perpustakaan dan minat baca harus berperan dalam menunjang terciptanya sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, maka tentunya harus dimengerti lebih dahulu SDM yang cerdas itu seperti apa. Apa arti kecerdasan itu sendiri, dan bagaimana layanan perpustakaan dapat menunjang peningkatan kecerdasan seseorang.
v kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional
Pada umumnya jika istilah ‘cerdas’ disebutkan, maka asosiasi kita langsung kepada kemampuan otak atau intelektualitas. Selain itu, tampaknya juga masih ada yang berpendapat bahwa seseorang yang cerdas itu memang dari sejak lahir sudah ditakdirkan cerdas, atau cerdas karena keturunan dari orangtua atau leluhur yang cerdas. Pendapat itu mungkin ada benarnya juga, karena setiap anak lahir dengan tingkat kecerdasan tertentu. Namun yang jelas kecerdasan itu bersifat dinamis, berkembang berkat berbagai pengaruh lingkungan. 
Jennifer Grahan Kizer,[6] juga mensinyalir bahwa pada umumnya orang mengasosiasikan istilah kecerdasan dengan tingkatan intelektualitas yang tinggi, atau dalam bahasa teknisnya intellectual quotiens (IQ). IQ mengukur kemampuan mental seperti pemecahan masalah, penalaran, pemikiran abstrak, dan kemampuan memahami hal-hal baru. Dalam beberapa kasus, skor IQ anak memang dapat dipakai untuk memprediksikan kompleksitas kognitif yang dapat ditanganinya. Namun, menurut Kizer, angka IQ seseorang tidak menunjukkan kecerdasan seluruhnya. Tes klasik IQ[7] pada umumnya mengukur beberapa faktor kecerdasan, yakni penalaran logis, keterampilan matematik, kemampuan bahasa, keterampilan yang terkait dengan ruangan, pemerolehan pengetahuan, dan kemampuan memecahkan masalah.
Oleh karena itu menurut Kizer, dalam dekade yang lalu, para pakar kesehatan mental mulai memperhatikan faktor kecerdasan emosional - EQ (emotional quotient), yang mengukur seberapa baik seseorang mengelola emosinya dalam kaitan dengan orang lain. Menurut Kizer, EQ bahkan dapat lebih baik memprediksi keberhasilan seseorang di masa depan. 
Hsin-Yi Cohen,[8] yang mengutip pendapat Dr. Horward Gardner, psikholog dari universitas Harvard, mengatakan bahwa kecerdasan manusia terdiri dari berbagai aspek kecerdasan yang bukan hanya terbatas pada intelektualitas. Kecerdasan manusia dapat dibedakan secara luas ke dalam kecerdasan abstrak (abstract intelligence atau symbolic reasoning), kecerdasan praktis (practical intelligence), kecerdasan emosional (emotional intelligence atau self-awareness dan self-management), kecerdasan estetis (aesthetic intelligence atau rasa seni), kecerdasan kinesthetic (kinesthetic intelligence), dan kecerdasan sosial (social intelligence). Sebagaimana dibahas di bawah, kecerdasan emosional adalah salah satu bentuk dari kecerdasan sosial yang berperan sangat penting bagi pengembangan kecakapan hidup.
v Kecerdasan Multi Aspek
Fatchurr yang juga mengutip Dr Howard Gardner, menyatakan bahwa ‘kecerdasan tidak terpatri di tingkat tertentu dan terbatas saat lahir.’[9] Mengawali tulisannya, Fatchurr mengatakan bahwa ‘tidak semua anak berpotensi menjadi Einstein, Habibie atau personal lain yang berIQ tinggi, tetapi bukan berarti anak kita tidak memiliki kecerdasan.’ Adalah tugas orangtua, lanjut Fatchurr, memfasilitasi dan menghantar perkembangkan unik tiap kecerdasan anak.
Menurut hemat saya pernyataan Fatchurr itu tepat sekali. Kecerdasan anak memang berkembang antara lain berkat fasilitasi yang diberikan oleh para orangtua, guru, atau para pendidik dan kaum dewasa lainnya. Perkembangan kecerdasan melalui berbagai cara ini dikenal dengan multiple intelligences. Fatchurr yang menawarkan sejumlah tips untuk membina kecerdasan anak, mengawalinya dengan menyebutkan pendapat Gardner, bahwa terdapat 8 kategori kecerdasan yaitu kecerdasan : bahasa, logika, visual-spasial, musik, diri, gerak, alam, dan sosial. 
Menarik sekali mencermati tips-tips yang ditawarkan Fatchurr, antara lain yang terkait dengan pengembangan kecerdasan bahasa, yakni dengan  mengembangkan sikap Cinta buku. Dia menyarankan agar para orangtua memperkenalkan ‘kegiatan membaca sejak anak usia balita dengan mendongeng buku cerita, puisi, dan beragam bacaan untuk anak. Saat usia sekolah ajak anak mulai membaca ensiklopedia, novel atau komik edukatif untuk merangsang minat membaca.’ Menurut hemat saya, dari rumusan ini terkandung pengertian bahwa sikap cinta buku harus dikembangkan dengan terlebih dahulu mengenal buku dan isinya. Maka perkenalan dengan beragam jenis buku perlu dilakukan oleh para orangtua, para guru, dan para orang dewasa pada umumnya bagi anak-anak dan generasi muda sesuai dengan tingkatan usia mereka. Dalam hal ini para orangtua dan orang-orang dewasa tentunya perlu memiliki pemahaman akan psikhologi membaca, agar dapat mempertimbangkan kesesuaian jenis bacaan dengan tingkat perkembangan kejiwaan anak-anak.
Saya menyimpulkan, bahwa Fatchurr adalah salah satu dari amat banyak orang yang sependapat bahwa minat dan kebiasaan membaca merupakan salah satu faktor penting dalam mengembangkan kecerdasan anak dan kecerdasan SDM pada umumnya. Saya yakin pula, bahwa Fatchurr juga sependapat akan pentingnya peranan layanan perpustakaan dalam menunjang tumbuh-kembangnya minat dan kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
v  Kecerdasan Sosial dan Kecerdasan Emosional
Menurut Norman D. Livergood,[10] kecerdasan sosial adalah kemampuan manusia untuk mengerti apa yang sedang terjadi di dunia, dan kemampuan merespon terhadap pemahamannya itu dengan cara personal dan sosial yang efektif.  Livergood menegaskan bahwa kecerdasan sosial adalah suatu kualitas dalam diri manusia yang memungkinkan dia memiliki kesadaran dan pemahaman dalam artian yang paling luas, pemahaman yang memungkinkan hidup mereka berharga dan membuat kehidupan masyarakatnya lebih baik semasa hidupnya dan bahkan sesudahnya. Kecerdasan sosial adalah suatu kebijaksanaan, suatu model perilaku manusiawi dan suatu cara dalam memandang kenyataan hidup.
Pada bagian lain Livergood mengatakan bahwa salah satu kualitas yang menunjukkan adanya kecerdasan sosial seseorang adalah: Understanding the necessity of life-long self-education, atau: mengerti pentingnya pendidikan mandiri sepanjang hayat. Pendidikan mandiri sepanjang hayat tiada lain adalah usaha untuk terus belajar secara mandiri kendati sudah tidak lagi duduk di bangku pendidikan. Saya berpendapat, dan saya kira semua orang sependapat, belajar mandiri sepanjang hayat hanya dapat dilakukan melalui kegiatan membaca. Karena kegiatan membaca dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja; tidak hanya dilakukan pada masa pendidikan formal dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi sekalipun, yang pada dasarnya hanya terbatas pada kurun waktu tertentu. Perpustakaan dan layanannya diselenggarakan tidak lain untuk menunjang atau men-suplai kebutuhan banyak orang untuk membaca dan belajar mandiri sepanjang hayat tersebut.
Sementara itu, menurut Yodhia Antariksa[11] yang mengutip buku karya Karl Albrecht  yang berjudul Social Intelligence : The New Science of Success yang telah diindonesiakan dengan judul Cerdas Bergaul : Kunci Sukses dalam Bisnis dan Masyarakat, terdapat lima elemen kunci yang bisa mengasah kecerdasan sosial kita, yang menurut Albrecht dapat disingkat menjadi kata SPACE. Elemen-elemen itu adalah: Situational awareness (kesadaran situasional, yakni kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain), Presense (atau kemampuan membawa diri, antara lain: etika penampilan, tutur kata dan sapa yang dibentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan), Authenticity (autensitas, keaslian, yakni perilaku yang mengesankan layak dipercaya, jujur, terbuka, dan tulus), Clarity (kejelasan, yakni kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide secara jelas sehingga diterima dengan baik oleh orang lain), dan adalah Empathy (empati, yakni kemampuan untuk mendengarkan, menerima dan memahami pandangan dan gagasan orang lain). 
Dari lima elemen yang dijelaskan dengan baik oleh Albrecht melalui Yodhia Antariksa itu, kiranya elemen Clarity sangat relevan dengan topik pembicaraan kita, yakni minat baca. Seseorang kiranya hanya mampu memiliki gagasan dan ide yang baik, brilian, dan menarik karena relevan dengan situasi dan kondisi kekinian, jika ia banyak memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu mungkin diramu dari berbagai sumber, termasuk pengalaman hidupnya, terutama dari berbagai bahan bacaan yang pernah dibacanya. Dengan kata lain, berkat membaca, seseorang akan memiliki kecerdasan sosial yang semakin tinggi.
Hsin-Yi Cohen yang telah dikutip sebelumnya, yang secara khusus membahas mengenai kecerdasan sosial mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi sering disebut sebagai memiliki perilaku yang mampu memfasilitasi pertumbuhan orang lain, dan membuat mereka merasa berharga, dicintai, dihormati, dan diapresiasi. Orang yang demikian sepertinya memiliki kepribadian magnetis yang mampu menarik banyak orang. Sebaliknya orang yang rendah kecerdasan sosialnya sering dianggap sebagai pribadi beracun, yang menyebabkan orang lain marah, merasa dilecehkan, frustrasi, atau merasa dipersalahkan. Mereka yang memiliki kecerdasan sosial rendah demikian itu sesungguhnya hanya karena mereka kurang memiliki kesadaran akan pengaruh pribadinya bagi orang lain.
Sementara itu, kecerdasan emosional adalah suatu bentuk dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan untuk memantau emosi diri sendiri dan emosi orang lain, serta membeda-bedakan emosi-emosi itu. Kemampuan tersebut akan dapat menjadi pemandu bagi pikiran dan tindakannya.Menurut Nuraini dari Lembaga Bina Anak dan Pengembangan Masyarakat FEDUs yang mengutip psikholog Peter Salovey dan John Mayer kecerdasan emosional itu merupakan ‘kualitas-kualitas emosional yang sangat penting bagi keberhasilan.’ Kualitas-kualitas itu antara lain: ‘kepedulian, kemampuan mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, penyesuaian diri, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.’[12] Hal penting yang dicatat oleh Nuraini, bahwa kecerdasan emosional tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. Dengan demikian kecerdasan emosional yang amat penting peranannya baik di dalam proses belajar di sekolah maupun di masyarakat, dapat dibentuk dan dikembangkan.
Menurut hemat saya, salah satu cara untuk menanamkan kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional adalah melalui bahan bacaan. Dewasa ini semakin banyak buku-buku yang dimaksudkan sebagai bahan bacaan untuk membentuk dan mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial pada umumnya. Buku-buku ceritera rakyat, legenda, cerita kepahlawan, dan biografi orang-orang ternama merupakan bahan bacaan yang dapat menunjang upaya penumbuh-kembangan kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional bagi para pembacanya. Para pengelola perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah hendaknya juga selalu mengembangkan koleksinya dengan jenis-jenis bahan bacaan seperti itu.

SDM Berkarakter
Jika dikatakan bahwa layanan perpustakaan dan minat baca harus berperan dalam menunjang terciptanya sumber daya manusia (SDM) yang cerdas dan berkarakter, maka tentunya harus dimengerti lebih dahulu SDM yang cerdas dan berkarakter itu seperti apa. SDM yang cerdas telah dibahas di atas, persoalan berikutnya adalah, SDM yang berkarakter itu seperti apa? Apa arti istilah karakter itu sendiri dan apa peranan minat baca dan layanan perpustakaan dalam menunjang pembentukan SDM yang berkarakter?
Pentingnya karakter seseorang dikemukakan antara lain oleh Mahatma Gandhi dalam kata-kata mutiara: “Kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa.”  Paling tidak sesudah peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2011 dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2011, makin banyak pemimpin di negara ini yang berbicara tentang pentingnya karakter. Tidak kurang dari Presiden RI sendiri yang mengatakan pentingnya karakter bangsa dibangun dan dikembangkan melalui pendidikan karakter. Dari karakter manusia warga negara itulah terbangun karakter bangsa, kata Presiden dalam sambutannya pada Peringatan Hardiknas dan Harkitnas 2011 dengan tema “Pembangunan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Nasional.” Untuk menjadi bangsa yang besar, menurut Presiden, rakyat Indonesia harus memiliki minimal lima hal, yakni moralitas yang baik, pengetahuan, perilaku yang baik, beriman, beradab dan anti kekerasan.[13]
Pertanyaannya adalah apakah karakter itu? Tentunya banyak definisi dapat dikemukakan mengenai istilah karakter ini yang tersebar di berbagai literatur. Namun rasanya penelusuran literatur itu tidak harus dilakukan seluruhnya, karena tampaknya istilah karakter sudah menjadi pengertian umum.
Jika dilihat dalam  kamus umum, menurut Annie Zaidi,[14] biasanya dikatakan bahwa karakter adalah suatu atribut atau kualitas yang mencirikan seseorang sehingga ia terbeda dari orang lain. Hal ini berarti bahwa ciri seseorang dirumuskan berdasarkan suatu rangkaian kebiasaan, kualitas, atau sikap tertentu yang kemudian menjadi dasar bagi penentuan karakter seseorang. Istilah karakter dapat diasosiasikan dengan hal-hal yang positif atau yang negatif. Jika seseorang dikatakan mempunyai karakter, atau berkarakter, menurut Annie Zaidi, itu berarti dia memiliki karakter positif, artinya secara etis dan moral dia unggul dan dapat dipercaya. Setiap atribut atau kualitas seseorang merupakan komponen yang membangun karakternya. Sehingga apabila seseorang dikatakan sebagai berkarakter, lanjut Annie Zaidi, hal itu didasarkan atas pertimbangan terhadap semua aspek kepribadian, termasuk penampilan fisiknya, kebiasaan sosialnya, reaksi-reaksi psikhologisnya, dan pemahaman orang lain atas keutamaan dan kekuatan orang itu. Persepsi orang lain atas karakter seseorang itulah yang memberikan dia suatu reputasi, entah yang bersifat positif atau negatif.
Melalui tulisan Annie Zaidi itu kiranya sudah dapat dimengerti bahwa karakter adalah suatu bentuk kualitas kepribadian yang terbangun dari berbagai komponen kualitas yang secara unik dimiliki atau melekat pada pribadi seseorang. Dengan karakter itulah maka seseorang terbeda (distink) dari orang lain. Catatan penting yang harus dipegang adalah, bahwa sebutan berkarakter biasanya diterapkan kepada mereka yang memiliki keunggulan positif. Orang-orang dengan perangai dan perilaku negatif tidak pernah akan disebut sebagai memiliki karakter. Juga jarang disebut sebagai berkarakter-negatif.
Pendidikan Karakter
Seperti halnya kecerdasan, khususnya kecerdasan sosial dan emosional, berkembang berkat pengaruh lingkungan (seperti pendidikan, pergaulan yang baik, dsb), demikian pula halnya dengan karakter, terutama yang terkait dengan atribut-atribut kepribadian. Oleh karena itu maka peranan faktor eksternal sangat penting dalam pembentukan dan pengembangan karakter. Itulah sebabnya maka dalam rangka membangun karakter bangsa, dewasa ini pemerintah menggalakkan pendidikan karakter bagi seluruh komponen bangsa. Pendidikan karakter dipandang sebagai tantangan global. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdiknas, Suyanto, karakter dipandang sebagai suatu soft knowlede atau pengetahuan halus yang meliputi sikap sopan-santun, kemampuan berkomunikasi, kejujuran, disiplin dan toleransi. Seseorang hanya dapat bertahan hidup dalam percaturan global, menurut Suyanto, jika ia memiliki soft knowledge yang memadai, bukan hanya kepintaran. Kepintaran hanya berkontribusi 20%, sedangkan soft knowledge 80%.[15]  
Tujuan dan sasaran dari pendidikan karakter antara lain agar anak-didik memiliki prinsip hidup yang kuat, kuat mental dan kuat pendirian. Hal ini memungkinkan mereka mampu melawan berbagai godaan, termasuk brainwashing (cuci otak) negatif yang baru-baru ini mencuat.[16] Orang yang memiliki karakter yang kuat tidak akan mudah menjadi korban pencucian otak. Sebaliknya pribadi yang lemah karakter, yakni mereka yang dalam proses mencari jati diri, mengalami tekanan fisik dan mental, psikologis sombong (percaya dirinya berlebihan tanpa didukung dengan pengetahuan yang luas dan mendasar), amat rentan brainwashing. Namun pribadi yang demikian itu juga dapat dikembangkan jika mendapat brainwashing yang positif, yang diarahkan untuk menanamkan prinsip dan keyakinan yang kuat akan sesuatu yang lebih baik, misalnya dalam rangka menyembuhkan pecandu narkoba, memupuk dan meningkatkan rasa nasionalisme, dan sebagainya.
Pentingnya pendidikan karakter bukan hanya disadari oleh bangsa dan pemerintah RI, tapi nampaknya juga oleh banyak pihak dalam tataran global. Di Amerika Serikat pendidikan karakter bahkan sudah ditekankan sejak abad 17 berkat pengaruh John Locke dan John Dewey. Namun sejak tahun 1930-an, menurut W. Huitt,[17] perhatian pada pendidikan karakter itu bergeser. Pendidikan moral, yakni pengembangan karakter yang baik dan penghargaan-diri (self-respect), hanya menempati urutan prioritas ketiga sebagai tujuan pendidikan umum, di bawah pengembangan keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan mendengar pada urutan pertama, dan pengembangan rasa bangga dalam pekerjaan dan rasa harga-diri pada urutan kedua.
Pada akhir dasawarsa 1980-an, menurut Huitt, ada perubahan pandangan yang lebih menyeimbangkan pentingnya pendidikan karakter dan pendidikan kompetensi akademik. Dua hal tersebut dipandang bukan sebagai hal yang terpisah satu sama lain, melainkan hal yang saling melengkapi. Beberapa penelitian yang dirangkum oleh Huitt memberikan kesimpulan bahwa siswa yang mempunyai karakter yang baik lebih berhasil pula dalam mencapai kompetensi akademik. Siswa yang disiplin atau lebih religius, bekerja keras, atau yang belajar secara lebih bermutu memperoleh skor yang lebih tinggi dalam tes hasil belajar.  Alhasil, pada 1987, the National School Boards Association mengusulkan kepada the United States Department of Education suatu proyek yang diberi nama, "Building Character in the Public Schools." Proyek yang melibatkan lebih dari 15.000 sekolah ini dimaksudkan untuk memperbesar program pembangunan karakter pada sekolah-sekolah. 
Untuk menunjang gerakan pembangunan dan pendidikan karakter tersebut suatu lembaga pengembangan media pembelajaran di San Fransisco AS telah mengembangkan suatu pedoman yang diberi nama Teaching Guide: Discussion Questions, Writing Assignments, and Student Activities for Character Education and Life Skills. Topik-topik dalam pedoman pengajaran karakter tersebut disusun sebagai semacam silabus untuk pendidikan dasar, menengah, dan menengah atas, yang dikembangkan berdasarkan tingkatan-tingkatan usia anak-didik.[18]
Menurut hemat saya, amat bermanfaat jika para pendidik dan pustakawan / pengelola perpustakaan (umum, sekolah) memperhatikan secara cermat topik-topik yang disarankan dalam silabus tersebut (terlampir). Hal itu karena topik-topik yang disusun berdasarkan usia anak-didik itu dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyediakan bahan bacaan yang sesuai.
Perpustakaan dan Pembangunan Karakter
Seperti halnya perpustakaan amat penting peranannya dalam pendidikan pada umumnya, maka tentu saja perpustakaan juga amat penting peranannya dalam pendidikan karakter. Hal ini, antara lain, dikuatkan oleh rekomendasi dari suatu seminar, yakni Seminar tentang Menanamkan Minat Baca (Seminar on Inculcating the Reading Habits), yang diselenggarakan oleh Pakistan Press Foundation (PPF) di Karachi  tanggal 20 Juni 2003 merekomendasikan bahwa perpustakaan memainkan peranan yang sangat menentukan dalam pembangunan karakter suatu bangsa manapun, terutama bagi generasi muda mereka. Hal itu karena, menurut Seminar itu, tatkala mengenangkan kegemilangan dan kehebatan masa lalu, maka peranan buku-buku tidak pernah dapat diremehkan. Oleh karena itu, lanjut rekomendasi seminar itu, pendekatan yang integratif dan yang disepakati bersama diperlukan oleh pemerintah untuk mempromosikan kebiasaan membaca di kalangan masyarakat  melalui promosi perpustakaan untuk minimsl 5 tahun, agar pada akhirnya membaca  menjadi kebiasaan dalam masyarakat.[19]    
Rekomendasi seminar di Pakistan tersebut seharusnya juga menjadi perhatian bagi banyak pemimpin negara, termasuk RI. Sebagaimana disebut pada awal tulisan ini, salah satu cara untuk melaksanakan pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan mengembangkan minat baca masyarakat. Minat baca ini harus dikembangkan sehingga menjadi kegemaran membaca, dan karena itu berkembang pula kegemaran mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan. Hal ini telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Dalam Undang­Undang ini, bab XIII pasal 48-5 1, diatur secara khusus Pembudayaan Kegemaran Membaca. Selain itu, pada pasal-pasal lain juga ditegaskan mengenai kewajiban pemerintah (pusat) dan daerah untuk menggalakkan promosi gemar membaca dan gemar memanfaatkan perpustakaan (pasal 7 ayat (1) e, dan pasal 8 huruf d), serta tugas Perpustakaan Nasional untuk melakukan promosi perpustakaan dan gemar membaca dalam rangka mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat (pasal 21 ayat (3) huruf c). Pada pasal 51 ayat (6) ditegaskan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhasil melakukan gerakan pembudayaan gemar membaca.[20]
Misi dari pembudayaan kegemaran membaca ini mencakup baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa maupun untuk membangun karakter bangsa agar menjadi bangsa yang besar dan kuat sebagaimana diharapkan bersama.

Strategi Pengembangan Minat Baca
Mengakhiri tulisan ini, perlu secara khusus disampaikan beberapa hal terkait dengan strategi pengembangan minat baca dalam perpustakaan yang perlu dirancang dan dilaksanakan. Untuk itu beberapa kesimpulan dari makalah tentang program promosi kebiasaan baca di ASEAN berikut ini mungkin dapat dipertimbangkan: [21]
1. Program yang berbasis pada buku, meliputi:
·         Penyediaan buku bagi masyarakat, antara lain dengan membuat daftar bacaan yang diedarkan kepada masyarakat
·         Program membaca, meliputi antara lain perkemahan membaca, lomba membaca, bedah buku (menceriterakan buku), membaca keras bagi anak-anak, puisi kreatif (dibaca keras, dibaca berulangkali, dibawakan secara sederhana dan menarik), penyediaan buku-buku bergambar termasuk novel, dan penyelenggaraan jam berceritera (story hours).
·         Program pentas, meliputi kegiatan drama yang didasarkan pada suatu ceritera dalam buku, pementasan wayang atau boneka dengan lakon berdasarkan ceritera dari suatu buku
·         Program pembuatan hiasan/karya seni yang didasarkan pada ceritera atau kenyataan sejarah yang terdapat dalam buku
·         Program kompetisi, seperti cerdas-cermat berdasarkan buku bacaan
2. Program membawa buku kepada masyarakat umum, yang meliputi pembuatan brosur-brosur yang mudah dibaca, hingga pelayanan perpustakaan keliling
3. Program promosi minat baca dengan bahan-bahan yang berbasis terbantu komputer, seperti CD, VCD, dan sebagainya.
Dalam lingkup perpustakaan sekolah kiranya baik digali kembali ide untuk menyelenggarakan jam perpustakaan di sekolah. Yang dimaksud jam perpustakaan adalah suatu jam pelajaran yang secara khusus digunakan untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pengenalan dan pemanfaatan sumber daya dan layanan perpustakaan. Dua hal penting dalam materi jam perpustakaan, yakni:
1. Learning to read (belajar membaca), dan
2. Reading to learn (membaca untuk belajar.
Dalam program belajar membaca, disajikan beberapa tahapan pembelajaran, antara lain belajar mengenali huruf, dan belajar mengenali urutan abjad. Hal itu sebagaimana diajarkan atau dilatihkan pada anak-anak yang belum bisa membaca, yang harus dilakukan oleh pendidik antara lain dengan mengeja, merangkai huruf, dan membaca keras. Tentu amat penting dilaksanakan suatu proses pembelajaran membaca yang menarik dan mudah, sehingga mendorong anak-didik untuk membaca sendiri, bukan dibacakan.
Dalam program membaca untuk belajar, disajikan antara lain pengenalan mengenai buku dan bagian-bagiannya, pengenalan mengenai jenis-jenis buku/bahan bacaan, pengenalan cara membaca yang baik, pengenalan mengenai cara membuat rangkuman atau singkatan isi buku yang dapat diawali dengan latihan pembuatan pertanyaan tentang isi buku dan menceriterakan kembali isi bacaan, latihan mencari informasi melalui bahan-bahan referensi, dan latihan membuat tulisan atau karangan berdasarkan isi buku termasuk cara-cara mengutip serta cara-cara membuat daftar bacaan (bibliografi). Praksis yang sudah sering dilaksanakan seperti lomba minat baca tentu perlu terus dikembangkan dan dimodifikasi sesuai dengan keadaan sekolah. Lomba mencari informasi dan lomba menulis juga dapat sangat menunjang upaya menumbuh-kembangkan minat dan kebiasaan membaca.
Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat dam selamat melaksanakan tugas mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter bangsa.



Jayapura, 15 Juni 2011

A.C. Sungkana Hadi, sungkanah@yahoo.com




Catatan:
[1] Disampaikan pada Forum Pemasyarakatan Minat Baca dan Perpustakaan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua Tahun 2011, Jayapura, 16 Juni 2011
[2] Pustakawan Utama Universitas Cenderawasih
[3]Diunduh dari : http://www.ayushveda.com/magazine/advantages-of-reading/  pada tanggal 11 Juni 2011
[5]Sri Handayani, 2008. “Menumbuhkan Budaya Gemar Membaca Pasca Maupun Tanpa Gempa.” Diunduh dari:  http://www.takalarkab.go.id/cetak.php?id=56. Diakses pada tanggal 25 Mei 2011

[6]Jennifer Graham Kizer, 2011. IQ & EQ: Understanding Intellectual Quotient & Emotional Quotient: Managing emotions and relating to others may be just as important as IQ score to a child's future success.” Diunduh dari: http://www.parents.com/baby/development/intellectual/iq--eq-understanding-intellectual-quotient--emotional-quotient/.  Diakses pada tanggal 7 Juni 2011

[7]Queendom: the land ot test. “Classical IQ Test.” Diunduh dari: http://www.queendom.com/tests/access_page/index.htm?idRegTest=1127. Diakses pada tanggal 20 Mei 2011
[8]Hsin-Yi Cohen, 2010. “What is Social Intelligence?” Diunduh dari: http://www.aboutintelligence.co.uk/social-intelligence.html.  Diakses tanggal 7 Juni 2011
[9]Fatchurr, 2011. “DELAPAN KECERDASAN ANAK.” Diunduh dari: http://fatchurr.blogdetik.com/2011/05/06/delapan-kecerdasan-anak/. Diakses tanggal 20 Mei 2011
[10]Norman D. Livergood,Social Intelligence: A New Definition of Human Intelligence.” Diunduh dari: http://www.hermes-press.com/socint4.htm 
[12]Nuraini, Lembaga Bina Anak dan Pengembangan Masyarakat FEDUs. ‘Kecerdasan emosional.’ Diunduh dari: www.fedus.org
[14]Annie Zaidi, 2004.  What is character education?“ Diunduh dari: http://www.indianchild.com/character/character_ education.htm  pada tanggal 8 Juni 2011
[15]Syarief Obaidillah, 2011. “Pendidikan Karakter Tantangan Global.” Media Indonesia 12 Mei 2011, p 16. Diunduh dari: http://bectrustfund.files.wordpress.com/2011/05/media-indonesia-p161.jpg pada tanggal 8 Juni 2011.
[16] “Liku-liku cuci otak.” Cenderawasih Pos, tanggal 13 Mei 2011, hal 6.
[17]Huitt, W., 2004. “Moral and character development.” Educational Psychology Interactive. Valdosta, GA: Valdosta State University. Diunduh dari:  http://www.edpsycinteractive.org/morchr/morchr.html  pada tanggal 8 Juni 2011.
[18]Diunduh dari:  http://www.goodcharacter.com/EStopics.html pada tanggal 8 Juni 2011.
[19] Diunduh dari: http://www.highbeam.com/doc/1G1-79974365.html  pada tanggal 8 Juni 2011.
[20]Bdk. Undang-Undang Perpustakaan Dan Promosi Minat Baca: (Refleksi pribadi A.C. Sungkana Hadii setelah Setahun Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007)

[21]Somsong Sangkaeo, 1999.  Reading habit promotion in ASEAN libraries.”  Effective Methods and some successful programs for Reading Habit Promotion in ASEAN Libraries. Diturunkan dari: http://www.ifla.org/IV/ifla65/papers/091-114e.htm 18-11-2008.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar